Sejarah Islam: Sayyidina 'Umar bin Khaththab r.a (Khulafaur Rosyidin Kedua)

 

Sejarah Islam: Sayyidina 'Umar bin Khaththab r.a (Khulafaur Rosyidin Kedua)

“Demi Allah, andai seekor keledai terperosok di Irak, aku khawatir Allah akan menanyai aku, ‘Mengapa tidak kau perbaiki jalan untuknya, wahai 'Umar?’” —Sayyidina 'Umar bin Khaththab r.a

*****

Di kota Makkah yang tandus nan mulia, sekitar tahun 584 Masehi, lahirlah seorang bayi dari keluarga terpandang suku Quraisy, bani ‘Adi. Bayi itu diberi nama Umar bin Khaththab. Ayahnya, Khaththab bin Nufail yang dikenal sebagai lelaki yang keras dan tegas. Ibunya adalah Hantamah binti Hasyim yang berasal dari keluarga terhormat. Sejak kecil, Sayyidina 'Umar bin Khaththab r.a tumbuh dengan tubuh yang kuat, semangat tinggi, dan kecerdasan yang luar biasa.

Di masa mudanya, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dikenal sebagai sosok pemberani dan tangguh. Dia belajar membaca dan menulis—kemampuan yang langka di masa itu—dan banyak bergaul dengan para pemuka Quraisy. Karena kepandaiannya, dia dipercaya menjadi duta Makkah dalam berbagai urusan penting. Jika ada masalah antara Quraisy dan kabilah lain, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra yang diutus untuk berbicara.

Selain itu, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sangat gemar berlatih bela diri, berkuda, dan bergulat. Dia juga terkenal tegas dan tidak segan menggunakan kekuatan bila merasa berada di posisi yang benar. Karena karakternya yang keras dan pemberani, masyarakat Quraisy sangat menghormatinya.

Namun sebelum Islam datang ke dalam hatinya, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra termasuk penentang keras agama baru yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Dia menganggap ajaran itu bisa memecah belah masyarakat Quraisy dan menghina berhala-berhala mereka. Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra yang keras dan kasar mulai mencari tahu lebih banyak tentang Baginda Nabi Muhammad saw dan ajaran Islam.

Ketika Islam mulai berkembang secara diam-diam di Makkah, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menganggap ajaran ini sebagai penyebab perpecahan dalam masyarakat dan penghinaan terhadap berhala-berhala Quraisy. Dia sering menyiksa kaum Muslimin yang lemah dan tidak segan mengancam siapa pun yang mengikuti Baginda Nabi Muhammad saw.

Suatu hari, dalam puncak kemarahannya, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengambil pedangnya dan berkata, “Aku akan membunuh Muhammad, orang yang telah memecah belah Quraisy!”

Dalam perjalanan menuju rumah Baginda Nabi Muhammad saw, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra bertemu dengan Sayyidina Nu‘aim bin 'Abdullah ra—seorang Quraisy yang diam-diam telah masuk Islam—di tengah jalan.

Dengan hati-hati, Sayyidina Nu'aim bin 'Abdullah ra bertanya kepada Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra, “Hendak ke mana, wahai Umar?”

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menjawab, “Aku akan membunuh Muhammad yang telah memecah belah kaum Quraisy dan mencaci maki tuhan-tuhan kita!”

“Salah, wahai Umar. Apakah engkau tidak tahu bahwa saudaramu sendiri, Fatimah binti Khaththab dan iparmu, Sa‘id bin Zaid, telah masuk Islam?”

Setelah mendengar penuturan itu, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sangat marah kepada adik perempuannya. Dia berbalik arah menuju rumah adik perempuannya dengan langkah besar dan pedang terhunus. Langkahnya terburu-buru. Dadanya terbakar oleh api kebencian yang makin membara terhadap Baginda Nabi Muhammad saw.

Ketika sampai di rumah Sayyidatuna Fatimah binti Khaththab ra, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari dalam rumah sang adik. Saat itu, Sayyidina Khabbab bin Al-Aratt ra—seorang sahabat Nabi—sedang mengajarkan Al-Qur’an kepada Sayyidatuna Fatimah binti Khaththab ra dan Sayyidina Said bin Zaid ra dari lembaran Al-Qur'an.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra berteriak dari luar, “Suara apa yang kudengar itu?”

Fatimah binti Khaththab ra dan suaminya segera menyembunyikan lembaran mushaf itu di tempat yang aman ketika mendengar suara kehadiran Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Mereka sengaja menghentikan bacaan Al-Qur'an karena takut dengan kemarahan Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Setelah itu, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra masuk ke rumah adik perempuannya itu.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra bertanya, “Apa yang kau baca barusan, wahai Fatimah?!”

“Tidak ada. Hanya percakapan biasa,” jawab Sayyidina Sa'id bin Zaid ra.

“Bohong! Aku barusan mendengar sebuah lantunan. Katakan padaku, apa yang kau baca, wahai Fatimah?!” cecar Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra.

“Itu bukan apa-apa,” jawab Sayyidatuna Fatimah binti Khaththab ra.

Karena murka dengan jawaban adiknya, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mendorong adiknya dengan kasar dan keras hingga adiknya terjatuh. Sayyidina Sa'id bin Zaid ra segera melerai Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra yang emosinya sedang mendidih.

Sayyidatuna Fatimah binti Khaththab ra lantas berkata, “Wahai Umar, lakukanlah sesukamu! Aku dan suamiku telah beriman kepada Alloh dan rosul-Nya!”

Kata-kata itu mengguncang hati Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Melihat darah di wajah adiknya, rasa kasihan dan penyesalan muncul di dalam hatinya.

Dengan suara yang lebih tenang, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra berkata, “Berikan kepadaku tulisan apa yang kalian baca tadi!”

“Ini adalah Al-Qur'an,” jawab Fatimah binti Khaththab Ra seraya mengusap kepalanya sendiri.

“Al-Qur'an?! Apa itu?”

“Itu adalah kitab suci Al-Qur'an yang diturunkan Alloh Swt kepada Muhammad.”

“Bolehkah aku membacanya?”

Fatimah menjawab, “Engkau sedang dalam keadaan najis, wahai Umar. Engkau tidak boleh menyentuh lembaran ini sebelum engkau mandi.”

Sesuai permintaan sang adik, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra pun mandi. Tak butuh waktu lama, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra selesai mandi dan memakai pakaiannya kembali. Kemudian, dia kembali meminta mushaf Al-Qur'an yang berada dalam genggaman adiknya. Mushaf tersebut lantas diberikan kepada Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra membaca lembaran mushaf QS. Thaha ayat 1—14 dari Fatimah binti Khaththab ra dalam hati.

طه

“Thaha.”
(QS. Thoha [20] ayat 1)

مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ

“Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.”
(QS. Thoha [20] ayat 2)

إِلَّا تَذۡكِرَةً لِّمَن يَخۡشَىٰ

“Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”
(QS. Thoha [20] ayat 3)

تَنزِيلًا مِّمَّنۡ خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ وَٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلۡعُلَى

“Diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.”
(QS. Thoha [20] ayat 4)

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ

“(Yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas 'Arsy.”
(QS. Thoha [20] ayat 5)

لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ

“Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.”
(QS. Thoha [20] ayat 6)

وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ وَأَخۡفَى

“Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.”
(QS. Thoha [20] ayat 7)

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ

“(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik.”
(QS. Thoha [20] ayat 8)

Baru sampai 8 ayat, hatinya mulai tersentuh keagungan Al-Qur'an. Napasnya yang memburu karena emosi kepada Baginda Nabi Muhammad saw pun perlahan mereda.

Dengan hati bergetar, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra merespons, “Apa karena ini orang-orang Quraisy berpaling? Sungguh betapa indah dan agung kalimat ini. Ini bukan ucapan manusia.”

Kemudian, Sayyidina 'Umar membaca lanjutan QS. Thoha tersebut.

وَهَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ

"Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?"
(QS. Thoha [20] ayat 9)

إِذۡ رَءَا نَارًا فَقَالَ لِأَهۡلِهِ ٱمۡكُثُوٓاْ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ نَارًا لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدًى

"Ketika dia (Musa) melihat api, lalu dia berkata kepada keluarganya, "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.""
(QS. Thoha [20] ayat 10)

فَلَمَّآ أَتَىٰهَا نُودِيَ يَٰمُوسَىٰٓ

"Maka ketika dia mendatanginya (ke tempat api itu) dia dipanggil, "Wahai Musa!"
(QS. Thoha [20] ayat 11)

إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوًى

"Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa."
(QS. Thoha [20] ayat 12)

وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ

"Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)."
(QS. Thoha [20] ayat 13)

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَٰوةَ لِذِكۡرِيٓ

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku."
(QS. Thoha [20] ayat 14)

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخۡفِيهَا لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۢ بِمَا تَسۡعَىٰ

"Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan."
(QS. Thoha [20] ayat 15)

فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنۡهَا مَن لَّا يُؤۡمِنُ بِهَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ فَتَرۡدَىٰ

"Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa.""
(QS. Thoha [20] ayat 16)

Ketika membaca ayat-ayat itu, kemarahan Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra yang semula marah mendadak berubah menjadi serius dan mendalami makna ayat-ayat tersebut. Dia terdiam lama dengan hati yang mulai tersentuh dan terenyuh oleh tiap-tiap kata di dalam mushaf Al-Qur'an tersebut. Makin banyak dia membaca ayat Al-Qur'an lebih banyak, makin dia tersentuh lebih dalam. Hingga akhirnya, hidayah mulai mengetuk pintu hatinya.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra terdiam sejenak sambil masih membaca lembaran Al-Qur'an tersebut dalam hati. Hatinya makin bergetar dan terenyuh. Emosinya mendadak hilang hingga dia merasa tenang setelah membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an tersebut. Perasaan benci kepada Baginda Nabi Muhammad saw berubah menjadi takjub.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menatap Sayyidatuna Fatimah binti Khaththab ra dan bertanya dengan tegas, “Tunjukkan kepadaku, di mana Muhammad?”

“Aku tidak akan memberitahukanmu,” jawab Fatimah binti Khaththab ra.

“Jawablah pertanyaanku, di mana Muhammad?”

“Aku tidak akan memberitahukanmu. Lebih baik, kamu bunuh aku jika kehendakmu hanya untuk membunuh Muhammad.”

“Wahai Fatimah, aku sama sekali tidak punya keinginan untuk membunuh Muhammad lagi. Beri tahulah aku di mana Muhammad?”

“Apakah ucapanmu bisa dipercaya, wahai 'Umar?”

“Ya, benar. Kamu bisa mempercayai perkataanku. Sekarang, katakan kepadaku, di mana Muhammad?”

“Baiklah, akan aku beri tahu. Dia sedang berada di rumah Arqam bin Abil Arqam.”

Melihat perubahan sikap dan raut wajah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra, Sayyidina Khabbab bin Al-Aratt ra keluar dari persembunyiannya dan berkata, “Bergembiralah, wahai Umar! Sesungguhnya aku mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berdoa semalam, ‘Ya Alloh, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar: dengan 'Umar bin Hisham (Abu Jahal) atau 'Umar bin Khaththab.’ Dan tampaknya doa itu dikabulkan untukmu!”

“Benarkah yang engkau ucapkan itu?” tanya Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra.

“Benar, wahai 'Umar. Aku akan menunjukkan kepadamu langsung di mana Muhammad berada sekarang. Mari, ikutlah denganku.”

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra pun bergegas menuju Darul Arqam (rumah Sayyidina Arqam bin Abil Arqam) bersama Sayyidina Khabbab bin Al-Aratt ra, yakni ke tempat Baginda Nabi Muhammad saw biasa berdakwah kepada para sahabatnya berkumpul secara sembunyi-sembunyi. Ketika sampai di depan pintu rumah Sayyidina Arqam bin Abil Arqam ra, para sahabat ketakutan karena mendengar suara Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra datang. Namun, itu tidak membuat Baginda Nabi Muhammad saw ciut nyali berhadapan dengan Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra.

Dengan tenang, Baginda Nabi Muhammad saw bersabda, “Biarkan dia masuk.”

Begitu sudah masuk ke rumah Sayyidina Arqam bin Abil Arqam ra, Baginda Nabi Muhammad saw memegang bahu Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dan bersabda, “Belum tibakah saatnya engkau menerima kebenaran, wahai 'Umar?”

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menjawab, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan engkau adalah utusan Alloh.”

Takbir bergemuruh di rumah Sayyidina Arqam bin Abil Arqam ra. Para sahabat bergembira dan bersyukur atas hidayah Alloh yang berhasil menyentuh hati seorang Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Rasa takut kepada Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra berubah menjadi kehangatan silaturahmi antara dirinya dengan Baginda Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya.

Masuk Islamnya Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menjadi titik balik kekuatan umat Islam di Makkah. Sebelumnya, kaum Muslimin beribadah secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah masuk Islam, dengan keberanian yang sangat tinggi, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengajak Baginda Nabi Muhammad saw untuk menunjukkan kebenaran Islam.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra bertanya, “Wahai Rosululloh, bukankah kita berada di atas kebenaran?”

Baginda Nabi Muhammad saw bersabda, “Benar.”

“Maka untuk apa kita sembunyi?” respons Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra lalu mengajak kaum Muslimin melaksanakan salat di depan Ka‘bah secara terang-terangan di bawah perlindungannya. Sejak saat itu, Islam mulai menunjukkan kekuatannya di hadapan Quraisy. Beberapa sahabat Baginda Nabi Muhammad saw pun mulai memiliki keberanian untuk menunjukkan keislaman mereka.

Setelah masuk Islam, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra meminta kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan para sahabat Nabi yang lain untuk tidak lagi bersembunyi. Dia justru menyatakan keislamannya secara terbuka di depan Ka‘bah, bahkan menantang siapa pun yang ingin menghalanginya untuk berduel sampai titik darah penghabisan demi membela kebenaran yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Bersamanya, kaum Muslimin mulai salat secara terang-terangan di depan umum untuk hari-hari seterusnya.

Suatu hari, dii tahun 1 H/622 M, Nabi Muhammad saw mengajak kaum Muslimin untuk hijrah ke Yatsrib (sekarang bernama Madinah Al-Munawaroh). Dengan sukarela, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra meninggalkan seluruh harta dan kedudukannya sebagai salah satu orang terkuat dan terpenting di suku Quraisy. Dia ikut bersama Baginda Nabi Muhammad saw hijrah ke Yatsrib dengan bermodalkan cahaya iman yang makin hari makin kuat dan dalam yang berhasil menguasai jiwanya.

Dalam setiap peperangan setelah hijrah ke Madinah, Baginda Nabi Muhammad Saw mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah Al-Munawaroh. Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra selalu berada di garda terdepan untuk membela Baginda Nabi Muhammad saw. Tak sedikit pun dia gentar untuk membela Baginda Nabi Muhammad saw. Dia pun ikut andil dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan Perang Tabuk, serta banyak peristiwa penting lainnya. Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih oleh pasukan Muslimin.

Keimanan Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra makin mendarah daging dalam dirinya. Hatinya kian bersih dari segala hawa nafsu. Akalnya makin jernih dan sehat sekaligus bebas dari segala kebencian. Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra perlahan menjadi pesaing Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra dalam menjalankan apa yang dilakukan oleh Nahi Muhammad saw.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra juga sering menjadi penasihat utama Baginda Nabi Muhammad saw, bahkan ada beberapa ayat Al-Qur’an turun sesuai dengan pendapatnya. Di antaranya mengenai larangan minum khamr, aturan berhijab untuk wanita, dan larangan salat jenazah bagi orang munafik.

*****

Setelah wafatnya Baginda Nabi Muhammad saw, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra membantu Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra dalam memimpin umat Islam. Kala itu, dia dikenal sebagai tangan kanan khalifah. Dia pun menjadi salah satu anggota Dewan Syuro atau Dewan Penasihat Khalifah bentukan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menjadi salah satu orang penting dan dijamin masuk surga oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Dia selalu menjadi orang yang aktif dalam berbagai pertempuran yang diperintahkan oleh Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra. Dia pun selalu berada di garda terdepan dalam setiap pertempuran.

Namun, pemerintahan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra tidak bertahan lama. Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra ikut andil dalam menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra. Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra turut sedih melihat keadaan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq yang makin melemah dari hari ke hari.

Hingga ketika menjelang wafatnya, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra menunjuk Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sebagai penggantinya dan membuat surat wasiat pengganti khalifah selanjutnya. Para sahabat yang menjadi anggota Dewan Syuro bentukan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra pun setuju dengan isi surat wasiat tersebut.

Hingga pada tahun 13 H (634 M), Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra resmi menjadi khalifah kedua umat Islam. Dia dibaiat oleh beberapa sahabat Nabi Muhammad saw yang menjadi anggota Dewan Syuro bentukan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mulai berdiskusi banyak dengan para sahabat Nabi Muhammad saw yang menjadi anggota Dewan Syuro, lalu membentuk Dewan Syuro yang baru.

Meski menjadi pemimpin umat Islam, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra selalu berbuat adil dan sederhana dalam berharta. Dia tinggal di sebuah rumah kecil dengan perabotan sederhana. Pakaiannya kasar. Dia tidak mau mengambil gaji berlebih dari Baitul Mal, kecuali cukup untuk kebutuhan sehari-hari sekadarnya saja.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra pun sering berpatroli malam hari. Terkadang sendirian, terkadang bersama sahabat Baginda Nabi Muhammad saw yang lain. Agar tidak terlihat oleh banyak orang, dia menyamar untuk melihat sendiri keadaan rakyatnya. Dia hanya memastikan bahwa dirinya tidak akan membiarkan satu pun hati rakyatnya terluka oleh semua kebijakannya.

Hingga di suatu malam, Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mendengar tangis anak-anak di sebuah rumah. Karena penasaran, dia mencoba mendekati rumah tersebut hingga sampai di depan pintu rumah yang menjadi asal tangisan tersebut. Dia mendengarkan terlebih dahulu percakapan apa saja yang ada di dalam rumah tersebut.

Karena makin merasa pilu dengan tangisan anak-anak kecil yang meminta makan kepada ibunya dari dalam rumah tersebut, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra berjalan hingga tiba tepat di depan pintu rumah tersebut.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengetuk pintu rumah itu. “Assalaamu 'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.”

“Wa 'alaikum salaam warohmatullohi wabarokaatuh. Siapakah di sana?”

“Kami adalah musafir, wahai Ibu.”

Beberapa detik berlalu. Setelah itu, tampaklah seorang wanita dengan baju yang sangat sederhana dengan raut wajah seperti orang kebingungan. Kemudian, ibu tersebut memandang Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dan pelayan setianya dengan tatapan sendu.

Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra bertanya, “Wahai Ibu, mengapa anak-anakmu menangis?”

“Mereka merengek meminta makanan karena lapar,” jawab sang ibu.

“Wahai Ibu, tampaknya engkau sedang memasak.”

“Benar.”

“Lalu, apakah makanannya sudah matang?”

“Belum dan tidak akan pernah matang.”

“Kalau boleh tahu, apa yang sedang engkau masak, wahai Ibu?”

Sang ibu tersebut menunjukkan isi masakannya kepada Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Air masakan sang ibu yang tidak tahu dengan siapa dia berhadapan pun mendidih, tetapi yang Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra temukan dan lihat sendiri hanya batu yang direbus. Peristiwa tersebut membuat hati seorang Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra bertambah pilu dan bergetar hebat hatinya.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sangat takut apabila azab Neraka Jahanam menyiksanya karena kepemimpinannya yang selama ini yang kemungkinan besar dikutuk oleh orang-orang miskin, terutama dengan orang yang baru saja dia temui. Air mata Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mulai membasahi kedua pipi hingga janggutnya. Dia menangis hingga tersedu-sedu.

“Wahai Ibu, tunggulah di sini. Aku akan pergi terlebih dahulu.”

Sang ibu hanya mengangguk. Sementara itu, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra bersama pelayan setianta berlari menuju gudang Baitul Mal. Setelah tiba di sana, dia mengambil beberapa makanan dan beberapa dinar dalam sebuah kantong kecil. Dia memanggul gandum dalam sebuah kantong besar seorang diri.

Kala itu, pelayan setia khalifah yang bersama Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menawarkan untuk membawakan barang yang sedang disiapkan. Namun, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menolak untuk melibatkan orang lain dalam misi kemanusiaannya kali ini.

Pelayan khalifah itu berulang kali menasihati Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra untuk tidak melakukannya seorang diri. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra terdiam beberapa detik sambil memilih bahan-bahan makanan mana yang akan dia suguhkan untuk keluarga kecil yang sedang berharap akan ada makanan dan tak menghiraukan tawaran pelayan setianya.

Pelayan setianya berkata, “Wahai Umar, biar aku saja yang memanggul semua barang-barang ini.”

“Tidak. Aku akan memanggulnya sendiri.”

“Tapi, bagaimana tanggapan banyak orang bila aku tidak membantumu, wahai Amirul Mukminin?”

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra terdiam sejenak sambil mengembuskan napas, lalu bertanya,  “Apakah engkau akan menanggung dosaku pada hari kiamat jika aku tidak memanggulnya sendiri?”

Pelayan khalifah terdiam. Sementara itu, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra memanggul bahan makanan dan membawa beberapa dinar itu sendiri. Hingga kemudian, sampailah dia kembali berada di rumah sang ibu tadi. Dia langsung meminta izin untuk mengambil alih dapur rumah tersebut.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra memasak bahan makanan itu dengan kedua tangannya sendiri hingga makanannya matang dan siap makan. Dia pun menyiapkan sendiri peralatan makan di atas meja makan yang kosong.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra meminta kepada sang ibu, “Wahai Ibu, bangunkanlah kedua anakmu untuk makan.”

Sang ibu lantas menuruti permintaan Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Kala itu, sang ibu belum mengetahui bahwa yang datang ke rumahnya dan secara sukarela memasakkan makanan untuk keluarga kecilnya adalah Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra tidak mau identitasnya sebagai khalifah atau amirul mukminin terbongkar.

Sang ibu bersama anak-anaknya makan dengan lahap. Raut wajah mereka memancarkan kebahagiaan. Hal tersebut pun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Ketika sang ibu dan anak-anaknya sudah kenyang dan bahagia, dia berpamitan bersama dengan pelayan setianya untuk pergi.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra berpesan, “Besok, datanglah ke Baitul Mal, wahai Ibu.”

“Terima kasih, wahai Bapak.”

“Sama-sama. Kami izin pamit, wahai Ibu. Assalaamu 'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.”

“Wa 'alaikum salaam warohmatullohi wabarokaatuh.” Sang ibu tersenyum semringah sambil memandang Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dan pelayan setianya.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra pergi ke luar rumah untuk kembali pulang bersama pelayan setianya. Dengan hati bahagia, dia berjanji untuk tidak membiarkan satu pun rakyatnya kelaparan lagi seperti yang terjadi di malam itu. Akhirnya, dia pun bisa tidur dengan hati tenang.

*****

1. Perang di Wilayah Persia (Kekaisaran Sasaniyah)

Setelah Islam mulai berkembang di Persia, bangsa Arab sering ditindas oleh pasukan Persia. Setelah Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menjadi khalifah, bangsa Persia mulai menyerang wilayah Islam di ke wilayah Irak. Dia pun mengirim pasukan untuk mempertahankan dan membebaskan negeri-negeri itu.

Dalam Perang Al-Qadisiyyah (636 M/14 H), Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengutus Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash ra untuk melawan pasukan Persia yang berada di bawah komando Rustum (pimpinan pasukan Persia). Tempatnya berada di Qadisiyyah, tepatnya di dekat Kufah (Irak).

Pertempuran ini berlangsung selama beberapa hari dengan sangat sengit. Meski kalah jumlah, pasukan kaum Muslimin berperang dengan semangat jihad yang tinggi. Hingga akhirnya Rustum tewas dan pasukan Persia tercerai-berai. Dengan begitu, pasukan umat Islam telah melindungi kaum Muslimin yang tinggal di sana. Sementara itu, kaum kafir dzimmi diperbolehkan menjalankan ritual keagamaannya sendiri dengan tenang.

Ibukota Persia, Mada’in (Ctesiphon), berhasil dikuasai. Harta rampasan—termasuk singgasana emas dan permata raja Persia—pun dibawa ke Madinah. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menangis ketika melihat kekayaan yang melimpah ruah dari hasil perang itu. Dia takut umatnya tergoda akan harta dunia yang tidak seberapa dibandingkan dengan rahmat Alloh Swt yang berbentuk surga.

Beberapa tahun setelah Perang Qadisiyyah, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mencetuskan perang di wilayah Nahawand (642 M/21 H). Dia mengutus Sayyidina Nu’man bin Muqarrin ra sebagai panglima besar untuk menghadapi bala tentara Persia yang menindas umat Islam di wilayah Nahawand.

Saat itu, Raja Yazdegerd III—pimpinan pasukan Persia di wilayah Nahawand—yang berkuasa. Perang ini dinamakan Perang Nahawand. Lokasinya berada di Iran. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra ingin membebaskan semua umat Islam di sana untuk menghentikan penindasan Raja Yazdegerd III terhadap umat Islam yang mulai berkembang di sana.

Perang ini disebut sebagai Kemenangan dari Segala Kemenangan (Fath Al-Futuh). Perang ini menyebabkan kekuasaan Persia di sebagian Iran benar-benar runtuh. Pasukan Islam meraih kemenangan meski kalah jumlah yang menghadapi ratusan ribu tentara Persia.

Alhasil, Kerajaan Sasaniyah Persia resmi jatuh ke tangan Islam. Wilayah Persia pun menjadi bagian dari Daulah Islamiyah. Banyak dari rakyatnya yang masuk Islam. Kemudian secara bertahap dan perlahan, Islam mulai berkembang di wilayah ini.

2. Perang di Wilayah Bizantium (Romawi Timur)

Setelah Baginda Nabi Muhammad saw wafat, Bizantium masih menguasai wilayah Syam (Suriah, Palestina, dan Yordania). Khalifah Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra sudah mengirim pasukan ke sana. Namun, perkembangannya sempat terhenti karena wafatnya Khalifah Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra melanjutkan perjuangan itu.

Oleh karena itu, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengutus Sayyidina Khalid bin Walid ra dan pasukannya ke medan Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 15 H/636 M untuk menghadapi Theodorus—pimpinan pasukan Bizantium—dan pasukannya.

Tempatnya berada di Lembah Yarmuk, tepatnya berada di perbatasan antara Syam dan Yordania. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra meminta Sayyidina Khalid bin Walid Ra untuk membawa pasukan secukupnya. Dia yakin bahwa Khalid bin Walid ra akan mampu menunaikan amanah Amirul Mukminin untuk menghentikan kezaliman penguasa di wilayah sana.

Saat itu, Bizantium mengirim pasukan besar yang berjumlah sekitar 200.000 orang, sedangkan kaum Muslimin hanya berjumlah sekitar 30.000 orang. Namun dengan strategi brilian dan dengan semangat jihad para sahabat Nabi Muhammad saw yang sangat tinggi, Sayyidina Khalid bin Walid ra dan pasukan umat Islam berhasil mengalahkan pasukan Romawi.

Kemenangan besar ini membuka pintu wilayah Syam (Suriah) bagi umat Islam. Setelah itu, kota Damaskus, Hims, dan Homs dikuasai oleh umat Islam. Islam pun mulai berkembang pula di sana. Semua orang kafir zimi pun diberi kebebasan dan kedamaian untuk menjalankan ritual ibadah sesuai dengan tuntunan agama masing-masing. Dengan begitu, kehidupan di wilayah sana terjamin kedamaian dan toleransinya.

Setelah meraih kemenangan di Perang Yarmuk, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra berkeinginan untuk membebaskan Baitul Maqdis (Yerusalem) pada 16 H/637 M. Untuk melancarkan aksi kemanusiaan sekaligus ekspansi dakwah Islam dalam Pembebasan Baitul Maqdis, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengutus Sayyidina Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah ra. Tempatnya berada di Yerusalem, Palestina.

Setelah Yarmuk, pasukan Islam mengepung Yerusalem. Penduduk Yerusalem meminta agar Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sendiri yang datang untuk melakukan serah terima kota itu. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra pun datang dari Madinah dengan pakaian sederhana dan dengan menunggang unta secara bergantian dengan pembantunya.

Alhasil, Yerusalem diserahkan tanpa pertumpahan darah. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menandatangani Piagam Perdamaian yang menjamin keamanan bagi seluruh penduduk, baik Muslim maupun Nasrani. Dia juga menetapkan Masjid Al-Aqsho sebagai tempat salat bagi kaum Muslimin.

Setelah membebaskan Baitul Maqdis, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra berkeinginan untuk membebaskan umat Islam di Mesir yang saat itu sedang dan masih dikuasai oleh Kekaisaran Bizantium. Maka pada tahun 19—21 H/640—642 M, mengutus Sayyidina Amr bin 'Ash ra untuk memimpin pasukan umat Islam dalam rangka pembebasan wilayah Mesir.

Tempatnya berada di Mesir. Perang ini akan menentukan nasib umat Islam yang mulai berkembang di seantero Mesir. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra merasa perlu untuk membebaskan wilayah tersebut karena dia sudah membaca masa depan bahwasanya di sana akan menjadi wilayah bagi perkembangan peradaban Islam untuk generasi-generasi selanjutnya.

Sayyidina Amr bin ‘Ash ra lantas memimpin pasukan Muslim menyeberang ke wilayah Mesir. Mereka menghadapi pasukan Romawi dalam serangkaian pertempuran, termasuk Perang Heliopolis. Dengan izin Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra, pasukan umat Islam diperkuat oleh Sayyidina Zubair bin Awwam ra dan para sahabat lainnya.

Alhasil, pasukan Romawi berhasil dikalahkan. Kota Fusthat (Kairo lama) didirikan sebagai ibu kota Islam pertama di Mesir. Sebagian besar atau mayoritas penduduk Mesir menyambut Islam dengan damai dan penuh sukacita karena mereka sebelumnya tertindas oleh penguasa Bizantium yang selama bertahun-tahun berkuasa dengan penuh kezaliman.

Setelah menaklukan pasukan Romawi di wilayah Mesir, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra ingin melakukan ekspansi dakwah Islam ke wilayah timur dan barat. Dia mengirim pasukan ke berbagai wilayah di wilayah timur dan barat. Wilayah tersebut di antaranya adalah Khurasan (Afghanistan bagian barat), Azerbaijan, Armenia, dan sebagian Anatolia (Turki bagian timur). Semua ekspedisi dan semua usaha untuk melakukan ekspansi dakwah Islam ke berbagai wilayah-wilayah ini memperluas pengaruh Islam secara politik dan spiritual.

Dampak kemenangan perang di Masa Umar adalah: wilayah dakwah Islam membentang sangat luas, yakni dari Libya di barat sampai Persia di timur; sistem pemerintahan teratur dengan gubernur di tiap wilayah; rakyat non-Muslim (kafir zimi) dilindungi dan diberi kebebasan beragama; kekayaan negara meningkat; juga budaya dan ilmu dari Persia dan Romawi mulai masuk hingga memberi dasar peradaban Islam untuk generasi-generasi selanjutnya.

Namun demikian, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra tetap hidup sederhana agar tetap merasakan manisnya iman dalam kesederhanaan hidup di alam dunia, agar merasakan apa yang rakyat miskin rasakan, dan agar menjadi tauladan bagi para pemimpin yang lain di mata umat Islam tanpa melupakan kebersihan hati.

*****

Karena di masanya wilayah Islam makin meluas, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra membuat kebijakan dalam bidang pemerintahan dan bidang administrasi, yakni membagi wilayah kekuasaan Islam menjadi beberapa provinsi (wilayah) agar lebih mudah dikelola. Sistem administrasi wilayah (wilayah/iklim) diperkuat dengan penunjukan gubernur yang memiliki otoritas eksekutif, militer, dan yudisial terbatas berdasarkan keimanan, ketakwaan, dan kejujuran.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sangat ketat dalam memilih gubernur, memantau kekayaan mereka, dan rutin menilai kinerja melalui inspeksi serta laporan masyarakat. Semua aduan masyarakat tentang para gubernur akan menjadi penilaian Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dari masa ke masa. Dia mengusahakan agar umat Islam dipimpin oleh para gubernur dengan seadil-adilnya.

Di setiap wilayah, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengangkat gubernur (wali) yang dipilih dengan sangat hati-hati. Bukan karena kekayaan atau nasab, melainkan karena takwa, keimanan, dan kejujuran dari orang yang dia pilih. Sebelum diangkat menjadi gubernur, setiap pejabat wajib menandatangani perjanjian integritas agar tidak menyalahgunakan jabatan.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra juga membuat lembaga pengawasan pejabat (semacam inspektorat) yang memastikan semua pejabat bekerja dengan jujur dan adil.

Berikut daftar gubernur utama pada masa Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra disertai wilayah dan keterangan administratifnya:

1) Wilayah Hijaz
1.1) Makkah dipimpin oleh Sayyidina Attab bin Asid ra. (lanjutan awal masa Umar)
1.2) Madinah (sebagai pusat kekhalifahan) dipimpin langsung oleh Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dan tidak ada gubernur independen.
1.3) Thaif dipimpin oleh Sayyidina Nafi‘ bin Abd Al-Haris ra (merangkap Makkah).

2) Wilayah Syam
2.1) Damaskus dipimpin oleh Sayyidina Mu‘awiyah bin Abi Sufyan ra.
2.2) Hims (Emesa) dipimpin oleh Ubaidah bin Samit
2.3) Qinnasrin dipimpin oleh Sayyidina Habib bin Maslamah al-Fihri ra.
2.4) Palestina (Filastin) dipimpin oleh Sayyidina Alqamah bin Mujazziz al-Kinani ra.
2.5) Yordania (al-Urdun) dipimpin oleh Sayyidina Syarhabil bin Hasanah ra.

3) Irak (Dua Provinsi Utama adalah Basrah dan Kufah)
3.1) Basrah dipimpin oleh Sayyidina Utbah bin Ghazwan ra (gubernur pertama), lalu digantikan oleh Sayyidina Al-Mughīrah bin Syu‘bah ra, lalu digantikan oleh Sayyidina Abu Musa al-Asy‘ari ra.
3.2) Kufah dipimpin oleh Sayyidina Sa‘ad bin Abi Waqqash ra (sebagai gubernur pertama), lalu digantikan oleh Sayyidina Al-Mughīrah bin Syu‘bah ra, lalu digantikan oleh Sayyidina Ammar bin Yasir ra, lalu digantikan oleh Sayyidina Abu Musa Al-Asy‘ari ra.

4) Persia (Wilayah Taklukan)
4.2) Kisra/Al-Madā’in dipimpin oleh Sayyidina Sa‘ad bin Abi Waqqash ra (sebelum dipindah ke Kufah).
4.2) Khurasan dipimpin oleh Sayyidina Al-Ahnaf bin Qais ra (komandan, semi-administratif), lalu digantikan oleh Sayyidina Abdullah bin Amir ra.
4.3) Fars dipimpin oleh Sayyidina Utsman bin Abi al-Ash ats-Tsaqafi ra.
4.4) Azerbaijan dipimpin oleh Sayyidina Huzayfah bin al-Yaman ra.
4.5) Armenia dipimpin oleh Sayyidina Al-Walid bin Uqbah ra.

5) Mesir (Fusthath/Mesir Hulu) dipimpin oleh Sayyidina Amr bin Ash ra.

6) Yaman dipimpin oleh
6.1) San‘a dipimpin oleh Sayyidina Ya‘la bin Umayyah ra.
6.2) Hadramaut dipimpin Sayyidina Mu‘awiyah bin Qunfudz ra.

7. Bahrain dipimpin oleh Sayyidina Al-Ala’ bin Al-Hadhrami ra.

8) Oman dipimpin oleh Sayyidina Hudzaifah bin Mihsan At-Tamimi ra.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra memisahkan jabatan qadhi (hakim) dari gubernur untuk menghindari absolutisme. Dia membuat kebijakan bahwa gubernur digaji dan dilarang memperkaya diri. Dia pun rutin memanggil semua gubernur ke Madinah untuk evaluasi publik dari masa ke masa. Jika ada tuduhan masyarakat, dia mengadakan majelis muhasabah di depan publik.

*****

Suatu hari, di masa kepemimpinan Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra, setelah dikuasai oleh umat Islam, Mesir dipimpin oleh seorang gubernur yang kehidupannya sangat kaya bagaikan kaisar. Rumahnya bagaikan istana. Kehidupannya mewah dengan perabotan luar biasa. Dia bernama Sayyidina Amr bin 'Ash ra.

Saat itu, Sayyidina Amr bin 'Ash ra ingin membangun sebuah masjid di samping istananya, tetapi di wilayah tersebut, ada sebuah gubuk reyot nan tua milik seorang Yahudi yang sudah berusia senja. Pria Yahudi tua itu miskin. Perabotannya pun sangat sederhana dan tidak banyak.

Gubernur Sayyidina Amr bin ‘Ash ra memanggil orang Yahudi tua itu. Dia meminta agar pria Yahudi tua itu mau menjual gubuknya. Namun, orang Yahudi itu tidak berniat untuk menjualnya.

Kemudian, Gubernur Sayyidina Amr bin ‘Ash ra memberikan penawaran yang sangat tinggi dengan harga lima belas kali lipat dari harga pasaran. Namun, tetap saja orang Yahudi itu menolak untuk menjualnya.

Gubernur Sayyidina Amr bin ‘Ash ra kesal. Segala cara telah dilakukan dan hasilnya buntu. Oleh karena itu, sang gubernur pun menggunakan kekuasaannya dengan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran dan akan menggusur paksa lahan tersebut, sedangkan si Yahudi tua itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.

Pria Yahudi tua itu berniat untuk mengadukan kesewenang-wenangan Gubernur Mesir itu pada Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Di sepanjang jalan menuju Madinah. Hingga akhirnya, dia sampai di kota Madinah. Dia bertemu dengan seorang pria yang duduk di bawah pohon kurma.

Pria Yahudi tua itu bertanya, “ Wahai tuan, tahukah Anda di mana khalifah?”

Lelaki itu menjawab, “Ada perlu apa engkau mencarinya, wahai Bapak?”

“Aku ingin mengadukan sesuatu. Di mana istana khalifah?”.

“Istananya ada di atas lumpur.”

“Lalu, siapa pengawalnya?”

“Pengawalnya orang-orang miskin, anak yatim, dan janda-janda tua.”.

“Lalu, apa pakaian kebesarannya?”

“Pakaian kebesarannya adalah malu dan takwa.”

”Di mana dia sekarang?”

“Dia sedang berada di depan engkau, wahai Bapak.”

Pria Yahudi tua itu terkejut. Ternyata, yang sejak tadi dia beri beberapa pertanyaan adalah seorang khalifah. Kemudian, dia menceritakan segala apa yang dilakukan oleh Gubernur Mesir kepadanya.

Laporan dari pria Yahudi tua itu malah membuat Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra marah dan wajahnya menjadi merah padam. Setelah amarahnya mereda, kemudian orang Yahudi itu diminta untuk mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah.

Pria Yahudi tua itu menyerahkan sebatang tulang unta kepada Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra kemudian menggores tulang tersebut dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah dan di tengah goresan itu ada lagi goresan melintang menggunakan ujung pedang.

Kemudian, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra tulang tersebut kepada pria Yahudi tua itu sambil berpesan, “Berikan tulang ini kepada Gubernur Amr bin ‘Ash.”

Si Yahudi itu kebingungan ketika diminta untuk membawa tulang yang telah digores. Kemudian, dia kembali pulang ke Mesir dengan rasa bingung yang belum terjawab sampai tulang itu diberikan kepada Gubernur Sayyidina Amr bin 'Ash ra. Dalam perjalanannya, dia bertanya-tanya mengapa dia hanya mendapatkan tulang unta busuk itu.

Setelah sampai di Mesir, pria Yahudi tua itu memberikan tulang tersebut kepada Gubernur Sayyidina Amr bin ‘Ash ra. Gubernur Amr bin ‘Ash ra yang menerima tulang tersebut dan langsung menggigil tubuhnya dan kedinginan serta wajahnya berubah menjadi pucat pasi.

Saat itu juga, Gubernur Sayyidina Amr bin ‘Ash ra mengumpulkan rakyatnya untuk membongkar kembali masjid yang sedang dibangun dan membangun kembali gubuk yang reyot milik pria Yahudi tua itu.

“Bongkar masjid itu!” teriak Gubernur Sayyidina Amr bin Ash ra sambil gemetar.

“Tunggu!” Orang Yahudi itu mengernyitkan dahi.

“Ada apa, wahai Bapak?”

“Maaf, Tuan. Mohon jelaskan perkara ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sehingga Tuan memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini? Sungguh saya tidak mengerti.”

Gubernur Sayyidina Amr bin Ash ra memegang pundak orang Yahudi itu sambil berkata, “Wahai Bapak, tulang ini memang hanya tulang biasa dan baunya pun busuk.”

“Lalu, mengapa Anda terlihat ketakutan, wahai Tuan? Aku hanya mencari keadilan di Madinah dan hanya mendapat sebongkah tulang yang busuk. Mengapa dari benda busuk tersebut gubernur menjadi ketakutan?”

“Tulang ini merupakan peringatan keras terhadap diriku dan tulang ini merupakan ancaman dari Khalifah 'Umar bin Khaththab. Artinya, ‘Apa pun pangkat dan kekuasaanmu suatu saat kamu akan bernasib sama seperti tulang ini. Karena itu, bertindak adil-lah kamu seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Sebab kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya,’” jelas Gubernur Sayyidina Amr bin ‘Ash ra.

Wajah pria Yahudi tua itu tunduk dan terharu. “Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, aku rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Bimbinglah aku dalam memahami ajaran Islam!”

Hingga akhirnya, pria Yahudi tua itu mengucapkan syahadat dengan keikhlasan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Akhirnya pula, dia mengikhlaskan gubuknya yang reot itu untuk dibangun menjadi masjid. Itulah keadilan Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Seorang Yahudi masuk islam berkat keadilan dari Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra.

*****

Di tahun 17 H, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menetapkan sistem penanggalan resmi umat Islam berdasarkan tahun hijrahnya Baginda Nabi Muhammad saw ke Madinah. Hal ini dikarenakan sebelumnya, umat Islam belum memiliki sistem kalender baku.

Banyak perjanjian antara umat Islam dengan umat agama lain atau negara lain sehingga para sahabat kebingungan dengan waktu pelaksanaan dan kapan berlakunya perjanjian tersebut. Berdasarkan pendapat dari para sahabat Baginda Nabi Muhammad saw yang lain, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra memutuskan untuk membuat kalender.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengajak banyak sahabat Baginda Nabi Muhammad Saw untuk mendiskusikan kalender khusus umat Islam. Sempat terjadi perbedaan pendapat di antara semua sahabat Baginda Nabi Muhammad saw pada saat mendiskusikan kalender Islam.

Hingga akhirnya, sebuah kalender ditetapkan. Nama kalendernya adalah Kalender Hijriah dengan Muharrom sebagai bulan pertama, berjumlah 13 bulan, dan 622 Masehi sebagai 1 Hijriah. Sejak itu, dimulailah Kalender Hijriah dan berlaku untuk umat Islam.

Setelah itu, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mendirikan Baitul Mal (Perbendaharaan Negara). Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mendirikan lembaga resmi negara bernama Baitul Mal untuk mengelola zakat, jizyah (pajak dari non-Muslim), kharaj (pajak tanah), ghanimah (harta rampasan perang), dan dan fai’ (harta dari wilayah yang ditaklukkan tanpa perang).

Harta-harta tersebut digunakan bukan untuk memperkaya negara, melainkan untuk kesejahteraan rakyat, gaji tentara dan pegawai, dan bantuan bagi fakir miskin, anak yatim, dan janda. Dengan begitu, umat Islam yang lemah mendapatkan jaminan dan perlindungan. Begitu pun dengan umat agama lain yang lemah mendapatkan jaminan dan perlindungan.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menetapkan gaji tetap bagi para pegawai, tentara, dan guru. Dia juga memberikan tunjangan bagi rakyat, seperti uang santunan bagi bayi sejak lahir, nafkah bagi janda yang suaminya menjadi syuhada, dan bantuan kepada orang miskin dan cacat.

Setelah menaklukkan Irak dan Mesir, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra tidak membagi tanah rampasan kepada tentara. Akan tetapi, dia menetapkan tanah-tanah tersebut sebagai milik negara (tanah kharaj). Penduduk lokal tetap boleh menggarap tanah dengan membayar pajak kecil.

Kebijakan ini menunjukkan visi ekonomi Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial agar kekayaan tidak hanya beredar di kalangan tentara, tetapi juga beredar di kalangan fakir miskin.

Langkah selanjutnya, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra membentuk sistem peradilan yang terpisah dari kekuasaan eksekutif. Dia mengangkat para qadhi (hakim) yang profesional, independen, dan dikenal karena kejujurannya. Dia pun membuat aturan administrasi peradilan, seperti pencatatan perkara dan saksi.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sangat tegas dalam hukum, tetapi juga adil dan berhati lembut. Dia tidak membedakan antara rakyat jelata dan pejabat. Oleh karena itu, kepemimpinan Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menjadi sangat ditakuti, disegani, dan dihormati oleh seluruh umat Islam.

Selanjutnya, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menetapkan sistem jaminan sosial bagi anak-anak yatim, lansia, orang miskin, dan orang yang kehilangan pekerjaan. Dia bahkan memerintahkan agar setiap bayi Muslim menerima santunan negara sejak lahir hingga dewasa, khususnya dalam bentuk pendidikan untuk mencerdaskan bangsa.

Tahun 18 H, terjadi kelaparan besar di Hijaz yang dikenal sebagai Tahun Abu-abu (Am Al-Ramadah) karena debu dan kelaparan. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra turun langsung membantu rakyat untuk menunda sementara hukum potong tangan bagi pencuri karena keadaan darurat, membuka dapur umum, dan mengirim logistik dari Mesir dan Syam.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sendiri tidak makan daging dan minyak. Dia hanya makan roti kering agar merasakan penderitaan rakyatnya. Selain itu, dia pun rutin dan sering menanyakan kepada rakyat tentang perkembangan keadaan akibat bencana tersebut.

Setelah berhasil keluar dari zona bencana dan membawa ketenangan bagi umat Islam, dalam urusan militer, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra juga membentuk tentara profesional tetap (al-jund) dengan sistem gaji bulanan. Dia membuat daftar nama tentara dan keluarganya (diwan al-jund) agar kesejahteraan para tentara terjamin terjamin.

Setelah itu, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mendirikan kota-kota strategis sebagai markas militer. Beberapa di antaranya adalah: Kufah dan Basrah di Irak; dan Fusthat di Mesir. Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sudah membaca masa depan bahwa kelak kota-kota ini akan menjadi pusat ilmu dan peradaban dunia.

Selama masa pemerintahannya, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra mengirim guru dan qari ke setiap wilayah untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dia juga mendirikan tempat belajar dan masjid di setiap kota baru untuk menunjang kebutuhan pendidikan.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra pun menetapkan pengajar agama sebagai profesi bergaji dari Baitul Mal dan menjaga agar masyarakat tetap berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ini adalah langkah yang dilakukan oleh Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra supaya umat Islam juga tidak mengalami ketertinggalan perkembangan peradaban manusia untuk ke depannya.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra juga memperkenalkan berbagai sistem baru, seperti: catatan administrasi negara (diwan), pos (barid) untuk mengirim surat antarwilayah, pencatatan sensus penduduk, dan pemetaan tanah pertanian dan sumber daya alam.

Semua ini menjadikan pemerintahan Islam teratur dan efisien sehingga sistem pemerintahan Daulah Islam menjadi makin disegani, ditakuti, dan dihormati karena kebijakan Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra yang tegas, adil, dan lembut.

*****

Pada tahun 23 Hijriah, ketika Islam berada di puncak kejayaannya terjadi tragedi tragis. Tatkala Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sedang memimpin salat Subuh di Masjid Nabawi, seorang budak Persia bernama Abu Lu’lu’ah al-Majusi yang merupakan budak beragama Majusi asal Persia menikamnya beberapa kali dengan belati beracun bermata dua.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra terluka parah hingga jatuh pingsan. Para sahabat Baginda Nabi Muhammad saw yang lain yang melihat kejadian tersebut langsung membawa Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menuju rumahnya. Di sana, dia ditelentangkan di atas pembaringannya.

Sebelum mati bunuh diri, Abu Lu’lu’ah berkata kepada orang-orang beriman bahwa dia merasa tidak puas dengan kepemimpinan Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra karena harus membayar pajak (kharaj) kepada tuannya, lalu mengadu kepada Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra. Namun, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra menilai bahwa beban itu wajar sehingga dia kecewa dan dendam.

Selama beberapa hari, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dirawat dengan penuh kesedihan oleh para sahabat Baginda Nabi Muhammad Saw yang lain. Para sahabat mendesak agar dia menunjuk pengganti Khalifah selanjutnya. Namun, dia tidak ingin menunjuk satu orang secara langsung karena khawatir umat Islam akan berselisih.

Sebagai gantinya, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra membentuk Dewan Syuro (Majelis Musyawarah) yang berisi enam sahabat utama yang dijamin surga oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Enam orang sahabat itu di antaranya adalah: 1) Sayyidina Utsman bin Affan ra, 2) Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, 3) Sayyidina Abdurrahman bin Auf ra, 4) Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqash ra, 5) Sayyidina Zubair bin Awwam ra, dan 6) Sayyidina Thalhah bin Ubaidillah ra.

Pada saat membentuk Dewan Syuro, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra sempat berkata, “Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridho kepada enam orang ini. Maka bermusyawarahlah kalian, dan hendaklah jika tiga orang setuju kepada salah satu, tiga lainnya mengikuti.”
(HR. Bukhari, no. 3700 dan Ibn Sa‘ad dalam Ṭabaqat al-Kubra, jilid 3)

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra juga berpesan agar musyawarah itu selesai dalam waktu tiga hari setelah kematiannya, dan kaum Muslimin tidak boleh bercerai-berai. Dia menunjuk Sayyidina Suhaib Ar-Rumi ra untuk mengimami salat untuk sementara ketika dia sakit. Sayyidina Suhaib Ar-Rumi ra pun mengawasi proses pemilihan khalifah oleh Dewan Syuro bentukan Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra.

Menjelang ajalnya, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra memanggil Sayyidina Abdullah bin Umar ra (putranya) dan berpesan, “Wahai anakku, pergilah kepada Aisyah, putri Abu Bakr, dan mintalah izin agar aku dikuburkan di samping sahabatku, Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar.”

Singkat cerita, Sayyidatuna Aisyah ra pun mengizinkan jasad Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dimakamkan di sana. Maka ketika ruh Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra pergi menemui tuhannya, kaum Muslimin menangis tersedu-sedu.

Hingga akhirnya, Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra wafat dalam keadaan husnul khotimah pada 26 Dzulhijjah 23 H (3 November 644 M), dalam usia 63 tahun, yaitu usia yang sama dengan Baginda Nabi Muhammad saw. Para sahabat Baginda Nabi Muhammad saw yang lain bersedih atas kepergian khalifah yang terkenal karena keadilannya tersebut.

Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dimakamkan di Roudhoh Asy-Syarifah, tepat di samping makam Baginda Nabi Muhammad saw dan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq ra. Pemerintahannya berlangsung selama 10 tahun 6 bulan. Sebuah masa yang dikenang sebagai zaman keemasan keadilan dan kejayaan Islam.

*****

Bekasi, 15 November 2025, 09:13 WIB.

—Andrian Dharma Yudhistira

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Islam: Zaman Kekhalifahan Islam

Sejarah Islam: Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a (Khulafaur Rosyidin Pertama)

Sejarah Islam: Sayyidina Bilal bin Rabah Ra (Azan yang Menembus Langit)