Sejarah Islam: Sayyidina Nu'aiman bin 'Amr r.a (Orang yang Selalu Membuat Nabi Tertawa)




Sejarah Islam: Sayyidina Nu'aiman bin 'Amr r.a (Orang yang Selalu Membuat Nabi Tertawa)


Nama lengkapnya adalah Nu‘aiman bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri. Dia berasal dari kaum Anshar (penduduk asli Madinah dari sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Saw) dari Bani An-Najjar dan ikut serta dalam Perang Badar. Yang membuat Nu‘aiman bin 'Amr r.a istimewa di mata Nabi Muhammad Saw bukan hanya karena keberaniannya di medan perang, tetapi juga selera humornya yang luar biasa. 


Hampir semua sahabat Nabi Muhammad Saw mengenal Nu‘aiman bin 'Amr r.a sebagai "orang paling lucu di Madinah". Nu‘aiman bin 'Amr r.a dikenal sering membuat orang tertawa, bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri sering tertawa karena ulahnya. Bedanya dengan candaan biasa, Nu‘aiman bin 'Amr r.a tidak pernah berdusta atau menghina orang lain. Candanya selalu cerdas, ringan, dan bermakna.


Suatu hari, Nabi Muhammad Saw mengutus Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a menuju Syam untuk berniaga. Sebelum berangkat, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a mendatangi Nabi Muhammad Saw untuk memohon restu dan izin untuk mengajak 2 orang sahabat, yakni Nu’aiman bin 'Amr r.a dan Suwaibit bin Harmalah r.a. Nabi Muhammad Saw lantas mengizinkannya.


Perjalanan pun dimulai. Langkah demi langkah menelusuri tanah gersang. Udara panas menyelimuti mereka. Namun, itu tidak menyurutkan semangat kafilah Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a untuk menunaikan tugas mulia dari Nabi Muhammad Saw.


Setelah sampai di Negeri Syam, kafilahnya berhenti dan beristirahat di dekat sumber mata air (oasis). Suwaibit bin Harmalah r.a ditugaskan menjaga perbekalan karena dikenal sebagai orang yang sangat amanah, sedangkan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a hendak pergi tanpa meninggalkan amanah untuk Nu'aiman bin 'Amr r.a. Maka dari itu, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a sangat mempercayai Suwaibit bin Harmalah r.a dan pergi meninggalkan kedua sahabatnya dengan hati tenang.


Saat Abu Bakar sedang pergi berniaga, Suwaibit bin Harmalah r.a menjaga makanan. Hingga tanpa terasa, matahari telah menampakkan diri sampai pada siang hari. Rasa lapar mulai menghampiri Nu'aiman bin 'Amr r.a. Namun, tidak bagi Suwaibit bin Harmalah r.a.


“Wahai Suwaibit, aku sudah sangat lapar, maka berikanlah aku sepotong roti untuk aku makan saat ini,” pinta Nu'aiman bin 'Amr r.a.


“Tidak bisa, wahai Nu'aiman. Aku tidak bisa melakukannya tanpa seizin Abu Bakr,” jawab Suwaibit bin Harmalah r.a.


“Berikan aku sepotong roti itu atau kau akan aku beri pelajaran.”


“Tidak, wahai Nu'aiman. Aku diamanahkan untuk menjaga perbekalan kita sampai Abu Bakr sendiri datang dan memberi keputusan.”


Karena tidak mendapatkan makanan, Nu'aiman bin 'Amr r.a memiliki pemikiran untuk pergi ke pasar terdekat. Setelah tiba di pasar, dia berjalan pelan sambil menengok ke berbagai arah. Hingga kemudian, dia melihat ada tempat penjualan para hamba sahaya. Dia lantas menghampiri si pemilik tempat penjual hamba sahaya tersebut.


Mulanya, Nu'aiman bin 'Amr r.a melihat-lihat terlebih dahulu. Di sana, dia melihat banyak hamba sahaya sedang dipamerkan untuk dijual kepada para calon tuannya. Dia menanyakan satu per satu harga para hamba sahaya yang ternyata harganya berkisar 100—300 dirham. 


Kemudian, Nu'aiman bin 'Amr r.a mengatakan kepada penjual hamba sahaya itu, “Aku juga punya hamba sahaya, tetapi hanya aku jual 20 dirham. Bagaimana menurutmu?” kata Nu'aiman bin 'Amr r.a.


“Ah, kau bohong. Mana ada seorang hamba sahaya begitu murah harganya,” respons si penjual hamba sahaya tersebut.


“Aku bersungguh-sungguh.”


“Baiklah. Kalau begitu, mana budak itu? Aku akan membelinya.”


“Aku punya budak yang pintar bicara, tapi kalau nanti dia bilang, ‘Aku bukan budak,’ jangan dipercaya.”


Si penjual hamba sahaya tersebut pun membayar mahar yang diminta oleh Nu'aiman bin 'Amr r.a. Nu'aiman bin 'Amr r.a lantas menjelaskan banyak hal tentang Suwaibit bin Harmalah r.a. Kemudian, si penjual hamba sahaya tersebut pun menyuruh orang-orang Badui bawahan si penjual hamba sahaya untuk membawa Suwaibit bin Harmalah r.a ke hadapannya.


Tak lama kemudian, datanglah beberapa orang bawahan si penjual hamba sahaya. Dari kejauhan, Suwaibit bin Harmalah r.a melihat ada banyak orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Mereka pun makin mendekat ke Suwaibit bin Harmalah r.a.


Hingga akhirnya, Suwaibit bin Harmalah r.a ditangkap dan digiring menuju tempat si penjual hamba sahaya. Suwaibit bin Harmalah r.a makin kebingungan dengan perlakuan para bawahan si penjual hamba sahaya.


Suwaibit bin Harmalah r.a bertanya, “Siapa kalian? Kalian mau berbuat apa terhadapku?”


“Kami akan membawamu ke tempat penjualan hamba sahaya di pasar, wahai Budak!” kata salah satu bawahan si penjual hamba sahaya tersebut sambil mengikatkan tali di beberapa bagian tubuh Suwaibit bin Harmalah r.a.


Suwaibit bin Harmalah r.a membantah, “Aku bukan budak! Kalian salah tangkap orang! Aku orang merdeka! Aku sahabat Rasulullah!”


Namun, orang-orang itu menjawab, “Kami sudah mengetahui kau akan mengatakan demikian dari tuanmu!”


“Ini pasti ulah Nu'aiman!” gerutu Suwaibit bin Harmalah r.a.


Setelah Suwaibit bin Harmalah r.a meninggalkan tempat perbekalan dan dibawa ke tempat penjualan hamba sahaya di pasar terdekat, Nu’aiman bin 'Amr r.a merasa nyaman karena kini telah memegang banyak uang. Dia menggunakannya untuk membeli makanan, minuman, hingga hadiah untuk Nabi Muhammad Saw.


Tak lama kemudian, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a pulang dari berniaga. Dia kebingungan karena tak menemukan Suwaibit bin Harmalah r.a di tempatnya dan tak mendapati Suwaibit bin Harmalah r.a sedang menjaga perbekalan. Dia melihat ke berbagai arah, tetapi tidak ketemu juga.


Karena bingung, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a bertanya kepada Nu’aiman bin 'Amr r.a, “Wahai Nu’aiman, ke mana perginya sahabatmu, Suwaibit?” 


Dengan mudahnya, Nu’aiman bin 'Amr r.a menjawab, “Hahaha. Dia sudah aku jual, wahai Abu Bakr.”


“Apa?! Ke mana kau menjual Suwaibit, wahai Nu'aiman?!”


“Dia kujual sebagai hamba sahaya di pasar terdekat dari sini.”


Mengetahui hal tersebut, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a awalnya marah, lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Nu’aiman bin 'Amr r.a lantas menceritakan semuanya perihal kekesalannya kepada Suwaibit bin Harmalah r.a. Setelah mendengar cerita Nu'aiman bin 'Amr r.a, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a malah tertawa.


Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a tidak menyangka Nu'aiman bin 'Amr r.a akan memiliki pemikiran sejauh itu. Namun, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a merasa khawatir apabila Suwaibit bin Harmalah r.a diperlakukan semena-mena dan apabila dia sampai terjual kepada orang lain.


Oleh karena itu, Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a langsung bergegas ke pasar dan membeli kembali Suwaibit bin Harmalah r.a hingga bebas kembali sebagai orang merdeka. Namun, Suwaibit bin Harmalah r.a tidak menyimpan kekesalan maupun dendam kepada Nu'aiman bin 'Amr r.a. Dengan lapang hati, Suwaibit bin Harmalah r.a memaafkan perlakuan Nu'aiman bin 'Amr r.a dan kembali seperti tidak ada masalah setelah mendengar penuturan Nu'aiman bin 'Amr r.a secara detail.


Sepulangnya mereka ke Madinah, Nu'aiman bin 'Amr r.a memberikan hadiah yang dibeli olehnya untuk Nabi Muhammad Saw sebagai hasil dari menjual sahabatnya sendiri yang bernama Suwaibit bin Harmalah r.a. Nabi Muhammad Saw menerimanya dengan senang hati.


Kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi Muhammad Saw oleh Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a. Setelah mendengar cerita Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a tentang perlakuan Nu'aiman bin 'Amr r.a terhadap Suwaibit bin Harmalah r.a, Nabi Muhammad Saw tertawa hingga gigi geraham beliau tampak di depan para sahabatnya.


Sejak saat itu, kisah Nu'aiman bin 'Amr r.a dan Suwaibit bin Harmalah r.a menjadi anekdot yang terkenal di kalangan para sahabat Nabi Muhammad Saw, tak terkecuali di hadapan Nabi Muhammad Saw. Bahkan lebih dari itu, kisah ini terkenal sampai ke zaman sekarang sebagai inspirasi bahwa bercanda itu boleh selama tidak melanggar syariat Islam dan selama tujuannya baik.


*****


Bekasi, 5 November 2025, 17:10 WIB.

—Andrian Dharma Yudhistira

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Islam: Zaman Kekhalifahan Islam

Sejarah Islam: Sayyidina Bilal bin Rabah Ra (Azan yang Menembus Langit)

Pentingnya Mengkaji Politik Islam dan Syariat Secara Kaffah (Keseluruhan Secara Lahir Batin)