Pentingnya Mengkaji Politik Islam dan Syariat Secara Kaffah (Keseluruhan Secara Lahir Batin)
Pentingnya Mengkaji Politik Islam dan Syariat Secara Kaffah (Keseluruhan Secara Lahir Batin)
Oleh: Ustadz Abu Hakim Al Jawi dan Andrian Dharma Yudhistira
Dari suara azan beralih ke pidato komunis. Namanya Ahmad Aidit. Orang Belitung. Bapaknya ulama yang merupakan pendiri sekolah Muhammadiyah. Kampungnya Minangkabau. Dia juga dikenal taat beragama dalam Islam.
Masa kecilnya santri yang rajin mengaji. Dulu sebelum ada yang disebut TOA, suaranya lantang dan merdu untuk mengumandangkan azan dan membaca Al-Qur'an. Jadi kalau azan, suara Aidit saja yang menggema ke kampung.
Orang kampung bangga karena dia adalah anak dari seorang ulama. Dia juga dikenal sebagai santri yang cerdas. Sorot matanya tajam. Ayat-ayat Al-Qur’an fasih. Dia sering diminta tampil di acara-acara keagamaan. Semua orang yakin dia bakal jadi penerus ayahnya. Dia menjadi tokoh Islam di Belitung. Jadi penggerak dakwah.
Namun, Jakarta menelannya. Sekolah Dagang. Dia beralih pindah tinggal di kota besar (metropolitan) dan mendapatkan banyak teman baru, buku baru, dan gaya hidup baru. Teman barunya bukan santri, tetapi aktivis kiri. Buku barunya bukan tafsir Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad Saw, tetapi Karl Marx dan Vladimir Lenin. Gaya hidupnya bukan lagi sibuk di musala untuk beribadah, tetapi tenggelam dalam diskusi politik.
Aidit hanyut dalam dalam bacaannya tentang Marxisme/Leninisme/Maoisme. Mulai dari santri hingga menjadi kader. Kemudian, dimulai dari kader hingga menjadi pemimpin. Ahmad-nya dibuang. Nama barunya berganti menjadi Dipa Nusantara yang kalau disingkat adalah D.N Aidit. Dengan nama tersebut, dia merasa lebih gagah, lebih ideologis, dan lebih merah (lebih bersemangat).
Aidit cepat naik. Dia mulai dikenal cerdas, pandai bicara, dan pintar strategi di kalangan orang-orang penganut paham Komunisme/Marxisme/Leninisme/Maoisme. PKI pun perlahan dibuat bangga kepadanya. Setelah itu, dia keliling kota Beijing (China), keliling Moskow (Rusia). Namun, idolanya hanya satu: Mao Zedong (penggagas paham Maoisme/Komunisme) dari China. Dia percaya revolusi harus dipercepat. Soekarno makin sakit-sakitan. Kalau Soekarno jatuh, maka PKI akan habis dibantai oleh orang-orang yang anti-Komunisme. Jadi, dia merasa harus jadi penggerak dan harus mengambil alih kekuasaan secepat mungkin sebelum Soekarno tiada.
Isu Dewan Jenderal disebar. Fitnah Angkatan Darat mau kudeta. Kemudian, meledaklah G 30 S/PKI. Darah jenderal-jenderal tumpah. Indonesia berguncang. Namun, Alloh Swt masih melindungi negeri yang mayoritas muslim ini. PKI telah gagal. Aidit kabur dengan lari ke Jawa Tengah, bahkan sembunyi di Semarang, Solo, dan Boyolali.
Akhirnya tertangkap di Solo, tepatnya di belakang Stasiun Balapan. Dalam sebuah lemari, ada pintu rahasia, tetapi tentara Indonesia (dahulu ABRI) lebih cerdik. Hingga akhirnya, Aidit digelandang ke Boyolali pada tanggal 23 November 1965. Dia dieksekusi di sumur tua.
Sebelum ditembak, dia diberi kesempatan bicara. Di sinilah ironi terbesarnya. Santri kecil yang dulu mengumandangkan azan sekaligus santri cerdas yang dahulu hafal Al-Qur’an mengakhiri hidupnya dengan pidato, bukan dengan istigfar atau doa taubat. Namun, dia berpidato dengan semangat berapi-api tentang komunisme dan PKI. Dia menyeru PKI untuk membela komunisme, lalu memuji Lenin, Mao, dan revolusi mental. Tak lama setelah berpidato, karena ABRI merasa kesal dengan pidato Aidit, dia diberondong peluru dan jatuh ke sumur tua sebagai komunis sejati.
Mahal sekali hidayah Alloh Swt itu meskipun punya ayah ulama, bisa jadi santri pintar, dan bisa hafal Al-Qur’an. Akan tetapi kalau tidak dijaga, semua itu bisa hilang, bahkan dalam sekejap mata sekaligus bila memiliki iman lemah. Dan kalau sudah hilang, habislah segala kebaikannya yang hakiki, baik secara lahir maupun batin. Orang mati sesuai dengan kebiasaannya. Aidit terbiasa dengan komunisme. Maka wafatnya pun dengan komunisme. Inilah yang disebut sebagai su’ul khatimah atau akhir hidup yang buruk.
Pertanyaannya: apakah hari ini masih ada Aidit-Aidit baru? Jawabannya: ada. Bukan dengan palu arit, tetapi dengan ide baru: sekulerisme, liberalisme, dan materialisme. Semua sama. Membuat orang jauh dari Alloh Swt, yaitu bisa membuat seorang santri hilang akal sehat dan logikanya dan membuat Al-Qur’an hanya jadi nostalgia di masa kecil.
Misalnya, anak-anak kita pintar, rajin membaca Al-Qur'an dan suara azannya bagus. Namun jika salah pergaulan, salah bacaan, dan salah lingkungan, nasibnya bisa hancur dan kelam.
Lalu solusinya apa? Bukan sekadar nasihat yang berbunyi, “Jangan salah gaul.” Bukan sekadar tempelan moral. Itu penting, tapi tidak cukup. Dalam pandangan Islam, istiqomah hanya bisa dijaga dengan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang benar secara syariah yang menyeluruh, sedangkan syariah yang menyeluruh dan menerapkan aturan Allah secara kaffah (keseluruhan) adalah kewajiban bagi setiap muslim yang menganggap bahwa Al-Qur'an dan hadits Baginda Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman hidup. Bukan hanya yang sekadar tahu dalil, tetapi nol dalam pelaksanaannya.
Islam itu bukan sekadar doa, bukan sekadar akhlak, dan bukan sekadar sistem pemerintahan. Ada politiknya juga. Ada ekonominya juga. Ada pendidikannya juga. Ada hukumnya juga. Kalau negara membiarkan ide-ide asing bebas masuk, maka Aidit baru akan lahir. Jika negara tidak melindungi iman rakyatnya, maka santri-santri kita bisa hanyut.
Solusi pragmatis sekarang hanya tambal sulam. Ada yang bilang, “Perkuat moral.” Ada yang bilang, “Awasi bacaan anak-anak.” Ada yang bilang, “Sekolahkan di pesantren.” Itu memang baik untuk membentuk seorang anak untuk menjadi pejuang Islam sejati. Namun jika lingkungannya sekuler, kalau sistem politiknya liberal, kalau ekonominya kapitalis, maka semua nasihat itu kalah dan hanya menyisakan kebencian di mata mereka yang hidup dalam Sekulerisme, Liberalisme, Kapitalisme, bahkan Komunisme/Marxisme/Leninisme/Maoisme).
Islam menawarkan solusi syariah yang bukan sepertiga, seperempat, hingga sepersembilannya saja yang harus digunakan, tetapi harus utuh dalam berbagai aspek kehidupan sekecil apa pun. Bukan separuhnya saja, tapi kaffah (keseluruhan) dan itu tercantum dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad Saw. Lingkungan diatur dengan iman. Negara melindungi masyarakat dari ide-ide sesat. Pendidikan menanamkan akidah secara lahir dan batin sejak dini. Ekonomi menutup jalan kapitalisme rakus. Politik menjaga kedaulatan umat.
Hanya dengan itu istiqomah bisa dijaga. Hanya dengan itu hidayah Alloh Swt bisa dipelihara. Aidit sudah mati, tetapi idenya bisa saja masih hidup berkeliaran di kampus-kampus, masuk lewat buku, masuk lewat tontonan, hingga masuk lewat internet. Hal itu justru akan membujuk anak-anak cerdas kita untuk berpikir “modern”, lalu perlahan lupa siapa dirinya yang sebenarnya sebagai hamba Alloh Swt dan pejuang Islam sejati.
Sejarah tidak untuk diulang, tetapi untuk diingat agar kita tidak jatuh di lubang yang sama. Aidit hanyalah satu contoh dari sekian banyak contoh bahwa istiqomah dan hidayah itu mahal dan langka. Tidak semua ahli maksiat bisa mendapatkan hidayah dan Istiqomah, juga tidak semua orang beriman pun bisa mempertahankan hidayah dari Alloh Swt. Iman tanpa lingkungan yang benar hanya tinggal kenangan yang perlahan akan tergerus dan terhapus oleh zaman. Jika itu terjadi, kebaikan akan dipandang sebagai keburukan dan keburukan akan dipandang sebagai kebaikan.
Maka pilihan kita hanya dua: terus biarkan santri-santri kita hidup dalam sistem sekuler dengan risiko lahir Aidit baru atau kembali ke aturan Alloh Swt secara kaffah agar hidayah yang mahal itu tidak hilang di tengah jalan. Jika tidak, sejarah akan berulang dan kita hanya bisa menyesal bahwa kita pernah punya santri-santri hebat. Namun pada akhirnya, mereka mati sebagai pecinta ide yang salah atau sesat.
Dan percayalah, jalan Alloh itu satu-satunya jalan. Yang lain? Hanya jalan memutar dan berakhir di sumur tua seperti Aidit.
*****
Bekasi, 5 November 2025, 17:31 WIB.
—Andrian Dharma Yudhistira
Komentar
Posting Komentar