Sejarah Islam: Sayyidina Abu Hurairah Ra (Bapak Anak Kucing dan Penjaga Hadits Nabi Muhammad Saw)
Sejarah Islam: Sayyidina Abu Hurairah Ra (Bapak Anak Kucing dan Penjaga Hadits Nabi Muhammad Saw)
Di sebuah desa kecil di Yaman Selatan, dari kabilah Daus, lahirlah seorang anak laki-laki sederhana. Dia diberi nama Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi Al-Yamani (عبد الرحمن بن صخر الدوسي اليمني). Orang-orang sekitarnya menyebutnya dengan nama ‘Abd Syams bin Shakhr.
Sejak kecil, Abu Hurairah tumbuh dalam kesederhanaan. Dia gemar bermain di ladang. Di antara teman-temannya, ia dikenal lembut dan penyayang terhadap hewan, tak terkecuali terhadap tumbuhan. Pada intinya, Abu Hurairah Ra memiliki prinsip menjadi penyayang kepada sesama makhluk.
Ketika berita tentang seorang nabi yang diutus dari Makkah sampai ke telinga sukunya, Abu Hurairah mendengarkan kisah itu dengan rasa ingin tahu. Pemimpin sukunya, Tufail bin ‘Amr Ad-Dausi, pergi ke Makkah, lalu kembali membawa cahaya Islam ke Yaman. Dengan penuh hikmah, Tufail mengajak kaumnya untuk beriman kepada Alloh dan rosul-Nya.
Abu Hurairah Ra muda pun mendengarkan dakwah Tufail bin 'Amr Ad-Dausi tentang Nabi Muhammad Saw dan Islam. Hanya mendengar dari Tufail bin 'Amr Ad-Dausi saja, perasaan Abu Hurairah Ra bergetar hebat. Dia mulai menyimpan kekaguman kepada Nabi Muhammad Saw dan penasaran bagaimana rupa, tindak tanduk, dan cara berlisan Nabi Muhammad Saw.
Dia menatap langit dan berkata dalam hati, “Inilah kebenaran yang selama ini aku cari.”
Maka Abu Hurairah Ra mengucapkan syahadat dan berserah diri kepada Alloh dan rosul-Nya. Tanpa ragu, dia menjadi seorang Muslim di tanah yang jauh dari Nabi Muhammad Saw berpijak. Dia mulai menanamkan benih cinta kepada Alloh dan rosul-Nya sejak mendengar kabar tentang kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
*****
Bertahun-tahun kemudian, setelah Islam makin kuat di Madinah Al-Munawaroh, Abu Hurairah Ra memutuskan untuk berhijrah. Dia meninggalkan kampung halamannya, hartanya, dan keluarganya demi bisa bertemu Nabi Muhammad Saw—secara langsung—yang selama ini hanya dia dengar namanya melalui lisan banyak orang di Yaman Selatan.
Abu Hurairah Ra tiba di Madinah pada tahun ke-7 Hijriyah sebelum Perang Khaibar. Saat pertama kali menatap wajah Nabi Muhammad Saw, air mata menetes di pipinya. Bukan karena sedih, tetapi dia terharu karena hasil perjalanan panjangnya dari Yaman Selatan ke Madinah selama ini berbuah manis dengan bertemu dengan manusia paling mulia di muka bumi itu.
Dengan nada lirih, tatkala melihat langsung Nabi Muhammad Saw, Abu Hurairah Ra berkata, “Demi Allah, aku belum pernah melihat wajah seindah dan selembut itu.”
Sejak hari itu, hidup seorang Abu Hurairah Ra berubah. Dia mulai taat beribadah. Dia selalu mengikuti dan menghafal semua yang Nabi Muhammad Saw ucapkan dan selalu mengikuti gerak-gerik Nabi Muhammad Saw. Semenjak bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw, dia menyerahkan seluruh waktunya untuk menemani dan melayani Nabi Muhammad Saw.
Abu Hurairah Ra tinggal di serambi Masjid Nabawi, bersama para sahabat miskin lainnya yang disebut Ahlus Suffah. Mereka tidak memiliki rumah, tidak memiliki harta, bahkan ada yang tidak memiliki keluarga, tetapi hati mereka penuh cahaya iman dan cahaya ilmu yang dibawa oleh Nabi Agung Muhammad Saw.
Terkadang, Abu Hurairah Ra kelaparan hingga pingsan. Dia tidak meminta makanan kepada siapa pun, melainkan hanya menahan diri sambil menunggu sedekah dari kaum Muslimin. Namun setiap kali Nabi Muhammad Saw berbicara, dia duduk paling depan dan menyimak dengan pandangan penuh perhatian. Di matanya, setiap kata dari Nabi Muhammad Saw adalah mutiara yang tak ternilai. Tanpa lupa, dia pun selalu membawa seekor kucing yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi.
Abu Hurairah Ra hidup sederhana di Madinah Al-Munawaroh. Dia sering berjalan di jalanan desa dengan sepotong roti di tangannya dan seekor anak kucing kecil yang selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Anak kucing itu kurus dan kotor ketika saat pertama kali dia temukan. Anak kucing itu meringkuk di balik batu, lapar, lemah, dan ketakutan. Dengan penuh kasih, dia memungutnya, membersihkan bulunya, dan memberinya sisa roti yang dia miliki.
Sejak hari itu, anak kucing itu tidak pernah jauh dari Abu Hurairah Ra. Terkadang kucing itu duduk di pangkuannya, terkadang tidur di dalam lengan bajunya, bahkan sering terlihat naik ke pundaknya ketika ia berjalan.
Suatu hari, Abu Hurairah Ra datang kepada Nabi Muhammad Saw bersama rombongan sahabat Daus yang baru masuk Islam kala itu. Rasulullah tersenyum melihat seekor anak kucing kecil menjulurkan kepala dari lipatan bajunya.
Dengan nada bicara lembut, Nabi Muhammad Saw bersabda sambil tersenyum, “Siapa ini di bajumu, wahai ‘Abdurrahman?”
Abu Hurairah Ra tersipu malu dan menjawab, “Ini hanya seekor anak kucing, ya Rasulullah. Aku menyayanginya.”
Nabi Muhammad Saw pun tertawa kecil dan bersabda, “Kalau begitu, engkau adalah Abu Hurairah, Ayah dari Anak Kucing.”
Sejak hari itu, nama julukan "Ayah dari Anak Kucing" selalu melekat kepadanya. Sejak saat itu pula, semua orang memanggilnya dengan panggilan "Abu Hurairah". Dia tidak pernah menolak. Dia justru tersenyum setiap kali mendengar julukannya disebut, seolah-olah nama itu menjadi tanda rahmat Alloh Swt dan rosul-Nya atas kelembutan hatinya.
Abu Hurairah Ra pun menjadi rajin belajar tentang Islam dengan segala kelembutan di dalamnya dan berusaha selalu menghafal setiap ucapan dan tingkah laku Nabi Agung Muhammad Saw. Namun setelah menyaksikan dakwah baik itu ucapan maupun tindak tanduk Nabi Muhammad Saw, Abu Hurairah selalu kehilangan ingatannya.
Hingga di suatu hari, karena sedih telah kehilangan hafalannya tentang dakwah Nabi Muhammad Saw, Abu Hurairah Ra mengadu kepada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulullah, aku sering lupa terhadap apa yang aku dengar darimu.”
Nabi Muhammad tersenyum kepada Abu Hurairah Ra. “Bentangkanlah selendangmu, wahai Abu Hurairah.”
Abu Hurairah Ra membentangkan selendangnya sambil menyaksikan tingkah laku Nabi Muhammad Saw yang penuh dengan kelembutan.
Nabi Muhammad Saw menggerakkan tangannya seolah-olah menuangkan sesuatu ke dalam selendang itu, lalu bersabda, “Rapatkanlah.”
Abu Hurairah Ra melakukannya, lalu mengenakannya di tubuhnya. Sejak hari itu, dia tidak pernah lupa satu hadis pun yang ia dengar dan ia lihat dari Nabi Muhammad Saw. Dia pun mulai meriwayatkan banyak sekali hadits Nabi Muhammad Saw dan menyampaikannya kepada banyak orang di Madinah Al-Munawaroh.
Hingga di suatu hari, Abu Hurairah Ra mendengar seruan jihad dari Nabi Muhammad Saw. Tanpa ragu dan tanpa rasa takut, dia turun tangan dalam Perang Khaibar. Hingga akhirnya, kemenangan pertempuran dimenangkan oleh kaum Muslimin. Dengan hati gembira, Abu Hurairah Ra mengucapkan takbir di hari kemenangan umat Islam dalam Perang Khaibar tersebut.
Dia terus bersama Nabi Muhammad Saw tanpa kenal waktu hingga wafatnya Nabi Muhammad Saw. Tidak ada kesedihan yang paling dalam bagi Abu Hurairah selain kehilangan Nabi Muhammad Saw. Di mata Abu Hurairah, Nabi Muhammad adalah sosok pemimpin agung terbaik sejagat raya alam semesta yang membawa cahaya dari Alloh Swt yang menerangi seluruh alam semesta. Dia selalu menangis setiap kali ingat dengan kenangan indah bersama Nabi Muhammad Saw.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, Abu Hurairah Ra menjadi salah satu sosok penting dalam keberlangsungan hidup umat Islam karena menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi Muhammad Saw. Sejak wafatnya Nabi Muhammad Saw pula, dia bertekad menyebarkan hadits dan ajaran Nabi Muhammad Saw.
Pada masa Kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra, Abu Hurairah Ra sering mendampingi beliau dalam urusan keagamaan. Namun, sebagian besar waktunya digunakan untuk mengajarkan hadits kepada para sahabat dan tabi’in muda. Dia tidak mengejar jabatan, tetapi lebih memilih beribadah dan menuntut ilmu, juga menyebarkan ilmu serta mengamalkannya dengan kesungguhan tingkat tinggi.
Ketika Sayyidina Umar bin Khaththab Ra menjadi khalifah, beliau melihat kecerdasan dan kejujuran Abu Hurairah Ra, lalu mengangkatnya sebagai Gubernur Bahrain. Jabatan itu dijalankannya dengan amanah meski hidupnya tetap sederhana dan jauh dari kemewahan.
Setelah beberapa waktu, Abu Hurairah Ra kembali ke Madinah dan memilih hidup tenang di dekat Masjid Nabawi. Di sanalah ia sering mengajar, menyampaikan hadits, dan mengingatkan orang-orang mukmin agar tetap teguh mengikuti sunnah Nabi Agung Muhammad Saw.
Setiap malam, Abu Hurairah membagi waktunya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk mengajar dan mengingat ilmu; sepertiga untuk beribadah dan salat malam; dan sepertiga untuk beristirahat. Dia pun dikenal sebagai ahli ibadah yang selalu menangis ketika mengingat akhirat, alam kematian (alam barzakh), dan Nabi Muhammad Saw.
Namun kekuasaan tidak mengubah hati seorang Abu Hurairah Ra menjadi orang yang merasa dirinya berkuasa atas hamba Alloh Swt yang lainnya. Ketika Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab Ra memeriksa seluruh harta milik Abu Hurairah Ra, dia hanya menemukan bahwa Abu Hurairah hidup sederhana, tanpa kemewahan.
Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab Ra bertanya, “Apakah engkau tidak menimbun harta lain, wahai Abu Hurairah?”
“Aku tidak mengumpulkan harta, wahai Amirul Mukminin, kecuali tiga hal: ilmu yang kuhafal, pakaian yang kupakai, dan kucing yang menemaniku,” jawab Abu Hurairah Ra sambil tersenyum.
Kekuasaan tidak menjadikan dirinya sebagai penguasa yang sombong dan tidak membuatnya menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi, melainkan kekuasaan itu sendiri menjadikan seorang Abu Hurairah lebih dekat dan lebih taat dengan Alloh Swt dan rosul-Nya karena dia mengetahui bahwa jabatan adalah azab jika tidak mampu mengemban amanah jabatan tersebut dengan baik. Dia pun selalu bertawadhu kepada siapa pun, baik secara lahiriah maupun batiniah.
*****
Tahun demi tahun berlalu. Abu Hurairah Ra makin menyibukkan dirinya dengan beribadah kepada Alloh Swt. Usia yang makin bertambah malah membuatnya makin dekat kepada Alloh Swt dan rosul-Nya. Dia mendapatkan anugerah dan berkah umur yang lebih panjang daripada Nabi Muhammad Saw.
Abu Hurairah Ra makin tua. Tubuhnya melemah, lalu jatuh sakit, tetapi lisannya tak pernah berhenti berzikir. Kala itu, banyak sahabat Nabi Muhammad Saw dan tabi'in muda menjenguknya. Mereka menangis melihat kondisi Abu Hurairah yang kian hari kian melemah karena sakit tersebut.
Abu Hurairah berkata kepada mereka, “Aku menangis bukan karena dunia, tetapi karena jauhnya perjalanan dan sedikitnya bekal.”
Mereka yang menjenguk Abu Hurairah Ra selama beberapa waktu pun akhirnya pulang. Mereka pun turut sedih atas jatuh sakitnya Abu Hurairah Ra. Namun bagi Abu Hurairah Ra, sakit yang dialaminya adalah Rahmat Alloh Swt yang akan mempertemukannya dengan kekasihnya, Nabi Muhammad Saw.
Setiap malam, Abu Hurairah selalu bangun untuk salat dan menangis mengingat hari-hari indah bersama Nabi Muhammad Saw, alam kematian (alam barzakh), dan hari akhirat. Makin diuji dengan berbagai kelebihan, makin bertambah pula keimanannya kepada Alloh Swt dan rosul-Nya. Dia pun selalu berdoa agar kematiannya husnul khotimah.
Menjelang akhir hayatnya, di usianya yang menginjak 78 tahun, tatkala masih berada di kota Madinah, Abu Hurairah Ra tersenyum di atas pembaringannya seraya berkata, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku, Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam.”
Hingga akhirnya, pada 59 H (sekitar 679 M), dia pun menghembuskan napas terakhirnya. Jenazahnya dimandikan dan disalatkan oleh Khalifah Walid bin ‘Utbah, dan dimakamkan di Pemakaman Baqi’ di Madinah Al-Munawaroh yang menjadi tempat peristirahatan terakhir banyak sahabat Nabi Muhammad Saw.
Di atas kuburnya, para sahabat membaca doa dan menangis karena telah pergi seorang Penjaga Hadits Nabi Muhammad Saw, seorang pecinta ilmu, dan seorang hamba yang lembut hati lahir dan batin. Satu orang yang disebut sebagai ulama Penjaga Hadits Nabi Muhammad Saw pun telah wafat dari muka bumi dan dunia kehilangan 1 orang ulama.
Abu Hurairah meninggalkan dunia tanpa harta, tetapi meninggalkan lebih dari 5.000 hadits Nabi Muhammad Saw yang menjadi sumber ilmu bagi seluruh umat Islam hingga kini. Namanya tak jarang disebut di setiap majelis ilmu. Hadits-hadits-nya dihafalkan oleh jutaan orang hingga masa sekarang.
*****
Bekasi, 5 November 2025, 17:00 WIB.
—Andrian Dharma Yudhistira

Komentar
Posting Komentar