Ciri-Ciri Orang Munafik Menurut Dalil Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad Saw




Ciri-Ciri Orang Munafik Menurut Dalil Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad Saw


Oleh: Andrian Dharma Yudhistira


Kata "munafik" berasal dari akar kata nafaaqo – yunfiquun – nifaaqon yang bermakna "menampakkan sesuatu dan menyembunyikan kebalikannya". Dalam bahasa Arab, istilah ini berasal dari kata "nafiqa'", yaitu lubang tersembunyi yang dibuat oleh hewan (seperti tikus gurun) untuk melarikan diri. Hewan itu keluar dari lubang lain bila lubang utama ditutup, maka orang-orang munafik diberi perumpamaan demikian karena ia selalu mencari jalan keluar dari kebenaran dan menipu orang dengan menyembunyikan kekufurannya.


Secara bahasa etimologi, dalam Lisan Al-‘Arab (Ibnu Manzhur, juz 10, hlm. 358), dijelaskan bahwa "An-Nafaq" adalah lubang yang memiliki dua jalan keluar, satu tampak dan satu tersembunyi. Dari situlah istilah "munafik" digunakan, karena ia menampakkan iman dan menyembunyikan kekufuran.


Menurut istilah syariat Islam, munafik adalah orang yang menampakkan keimanan dengan lisan dan amal perbuatan, namun menyembunyikan kekafiran, keraguan, atau kebencian terhadap Islam dalam hatinya. Jadi, munafik adalah orang yang menampakkan keimanan dengan lisannya, tetapi menyembunyikan kekafiran, kebencian, atau penentangannya terhadap Islam di dalam hatinya.


Orang-orang beriman akan lebih mudah mengetahui perbedaan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik. Dalam posting-an ini, penulis menuliskan beberapa ciri-ciri sifat orang-orang munafik. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.


1) Empat Sifat Munafik yang Utama


أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ، حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.


“Ada empat sifat; siapa yang keempatnya ada padanya, maka ia seorang munafik sejati. Dan siapa yang memiliki salah satunya, berarti padanya ada satu sifat munafik hingga ia meninggalkannya: bila dipercaya (maka) ia berkhianat; bila berbicara (maka) ia berdusta; bila berjanji ia (maka) mengingkari; dan bila berselisih (maka) ia melampaui batas.”

—HR. Bukhari No. 33, Muslim No. 88


2) Memiliki 2 Wajah di Hadapan Golongan yang Berbeda-beda


2.1) Dalil Pertama

 "إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ."


“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua, yang datang kepada suatu kaum dengan satu wajah dan kepada kaum lainnya dengan wajah yang lain.”

—HR. Bukhari No. 6058, Muslim No. 2526


2.2) Dalil Kedua


مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ، تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً، وَإِلَى هَذِهِ مَرَّةً، لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا تَتْبَعُ.


“Perumpamaan orang munafik adalah seperti kambing yang bingung di antara dua kawanan, kadang mendatangi yang ini dan kadang mendatangi yang itu, tidak tahu mana yang harus diikuti.”

—HR. Muslim No. 2771


2.3) Dalil Ketiga

“(Orang-orang munafik) adalah orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada kalian (orang-orang beriman). Maka jika kalian mendapat kemenangan dari Alloh, mereka berkata, ‘Bukankah kami bersama kalian?’ Tetapi jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan, mereka berkata, ‘Bukankah kami turut membantu kalian dan melindungi kalian dari orang-orang mukmin?’ Maka Alloh akan memberi keputusan di antara kalian pada hari kiamat. Dan Alloh tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman.”

—QS. An-Nisa [4]: 141


3) Beribadah Dengan Malas


إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَٰوةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا


“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) di hadapan manusia dan mereka tidak mengingat Alloh kecuali sedikit sekali.”

—QS. An-Nisa [4]: 142


4) Selalu Berteman Setia Dengan Musuh Islam (Kafir Harbi)


أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ قَوۡمًا غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مَّا هُم مِّنكُمۡ وَلَا مِنۡهُمۡ وَيَحۡلِفُونَ عَلَى ٱلۡكَذِبِ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ


“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman setia? Mereka bukan dari golonganmu dan bukan pula dari golongan mereka, dan mereka bersumpah atas kebohongan padahal mereka mengetahui.”

—QS. Al-Mujadilah [58]: 14


5) Menyuruh yang Munkar dan Melarang yang Makruf


ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٍ ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَهُمۡ ۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمۡ ۚ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ


“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) mungkar dan melarang (berbuat) makruf serta menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah lupa kepada Alloh, maka Alloh melupakan mereka (tidak memberi rahmat). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang fasik.”

—QS. At-Taubah [9]: 67


6) Selalu Berpihak Kepada Musuh Islam (Kafir Harbi) Dengan Alasan Solidaritas, Toleransi, dan Silaturahim


أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ نَافَقُواْ يَقُولُونَ لِإِخۡوَٰنِهِمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ


“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab: ‘Sesungguhnya jika kamu diusir, kami pun akan keluar bersama kamu, dan kami tidak akan patuh kepada siapa pun terhadap urusanmu selama-lamanya; dan jika kamu diperangi, kami pasti akan menolongmu.’ Tetapi Alloh menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta. 

—QS. Al-Hashr [59]: 11


7) Selalu Bersembunyi untuk Mengamankan Diri


وَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنَّهُمۡ لَمِنكُمۡ وَمَا هُم مِّنكُمۡ وَلَٰكِنَّهُمۡ قَوۡمٞ يَفۡرَقُونَ ||| لَوۡ يَجِدُونَ مَلۡجَئًا أَوۡ مَغَٰرَٰتٍ أَوۡ مُدَّخَلًا لَّوَلَّوۡاْ إِلَيۡهِ وَهُمۡ يَجۡمَحُونَ


“Mereka bersumpah dengan (nama) Alloh bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukan dari golonganmu, tetapi mereka adalah orang-orang yang takut (kepadamu). Sekiranya mereka memperoleh tempat perlindungan, gua-gua, atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi ke sana secepat-cepatnya.”

—QS. At-Taubah [9]: 56–57


8) Suka Mengolok-olok Orang-orang Beriman


يَحۡذَرُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ سُورَةٞ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمۡ ۚ قُلِ ٱسۡتَهۡزِءُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ مُخۡرِجٞ مَّا تَحۡذَرُونَ ||| وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُ ۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ||| لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡ ۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ


“Orang-orang munafik itu takut kalau-kalau diturunkan kepada mereka suatu surah yang memberitahukan apa yang tersembunyi di hati mereka. Katakanlah, ‘Teruskanlah ejekanmu, sesungguhnya Alloh akan menyingkapkan apa yang kamu takuti.’ Dan jika engkau bertanya kepada mereka, mereka akan berkata, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya, dan rosul-Nya kalian berolok-olok?’ Janganlah kalian meminta maaf; kalian telah kafir setelah beriman.”

—QS. At-Taubah [6]: 64—66


9) Tidak Mau Berhukum Menggunakan Hukum Alloh Swt


وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيۡتَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا |||  فَكَيۡفَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةُۢ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ جَآءُوكَ يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنۡ أَرَدۡنَآ إِلَّآ إِحۡسَٰنًا وَتَوۡفِيقًا ||| أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَعِظۡهُمۡ وَقُل لَّهُمۡ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَوۡلَۢا بَلِيغًا


“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah (patuh) kepada hukum yang Alloh turunkan dan kepada Rasul,’ niscaya kamu lihat orang-orang munafik berpaling darimu dengan keras. Maka bagaimana halnya apabila mereka ditimpa musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, lalu mereka datang kepadamu sambil bersumpah, ‘Demi Alloh, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian.’ Mereka itulah orang-orang yang Alloh mengetahui apa yang ada di hati mereka. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.”

—QS. An-Nisa [4]: 61—63


10) Cenderung Selalu Mengaku Beriman padahal Hatinya Kafir


وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ


“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Alloh dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”

—QS. Al-Baqarah [2]: 8


11) Cenderung Selalu Mencari-cari Pembenaran 


قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ."


Rosululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah orang munafik yang pandai berbicara.”

—HR. Ahmad dan Hakim


12) Berat Melaksanakan Salat Subuh dan Salat Isya'


 أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا.


“Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya' dan salat Subuh. Seandainya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”

—HR. Muslim no. 651


13) Benci Apabila Disebut Kejelekannya


مَثَلُ الْمُنَافِقِ إِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَشَعَ، وَإِذَا غَفَلَ قَسَا قَلْبُهُ، يُحِبُّ أَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَيُبْغِضُ أَنْ يُذْكَرَ بِسَيِّئَةٍ فَعَلَهَا.


“Perumpamaan orang munafik, bila disebut nama Alloh ia tampak khusyuk, namun bila lalai hatinya keras. Ia suka dipuji atas apa yang tidak ia lakukan dan membenci bila disebut kejelekannya sendiri.”

—HR. Baihaqi, Syu’ab Al-Iman, No. 6413; hadits ini dinilai hasan


14) Cenderung Kikir Kepada Orang-Orang Beriman


هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَىٰ مَنْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّوا ۗ وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَـٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ


“Mereka (orang munafik) berkata: ‘Janganlah kalian memberi nafkah kepada orang-orang di sekitar Rasululloh agar mereka bubar.’ Padahal milik Alloh-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang munafik tidak memahami.”

—QS. Al-Munafiqun [63]: 7


15) Suka Bersumpah Palsu


ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةً فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ


"Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Alloh; maka bagi mereka azab yang menghinakan."

—QS. Al-Mujadilah [58]: 16


*****


Konsekuensi dari sifat munafik tidak ringan. Mereka mendapatkan kehinaan dunia maupun akhirat. Mereka yang munafik pun banyak disebut dalam Al-Qur'an. Beberapa konsekuensi dari kemunafikan seseorang adalah dilarang untuk disalatkan jenazahnya, terhinakan di dunia maupun akhirat, tidak akan masuk surga, Neraka Jahannam adalah tempat pulang orang-orang munafik, dan kekal di dalam Neraka Jahannam.


1) Jenazahnya Dilarang Disalatkan dan Didoakan


وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰٓ أَحَدٍ مِّنۡهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمۡ عَلَىٰ قَبۡرِهِۦٓ ۖ إِنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَمَاتُواْ وَهُمۡ فَٰسِقُونَ


"Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan sholat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik) selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Alloh dan rosul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik."

(QS. At-Taubah [9]: Ayat 84)


2) Mendapat Kehinaan Dunia dan Akhirat


إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ


"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Alloh dan rosul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina."

—QS. Al-Mujadilah [58]: 20


3) Tidak Akan Masuk Surga


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ ذُو الْوَجْهَيْنِ


“Tidak akan masuk surga orang yang memiliki dua wajah.”

—HR. Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad No. 338; Muslim No. 2526


4) Neraka Jahannam Terbawah Adalah Tempat Pulang Orang-Orang Munafik


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ.


“Sesungguhnya orang-orang munafik berada pada tingkatan (lapisan) neraka yang paling bawah.”

—QS. An-Nisa [4]: 145


5) Kekal di Dalam Neraka Jahannam


وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسۡبُهُمۡ ۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّقِيمٞ


“Alloh menjanjikan kepada orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah itu bagi mereka. Alloh melaknat mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.”

—QS. At-Taubah [9]: 68


*****


Bekasi, 5 November 2025, 17:14 WIB.

—Andrian Dharma Yudhistira

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Islam: Zaman Kekhalifahan Islam

Sejarah Islam: Sayyidina Bilal bin Rabah Ra (Azan yang Menembus Langit)

Pentingnya Mengkaji Politik Islam dan Syariat Secara Kaffah (Keseluruhan Secara Lahir Batin)