Sejarah Islam: Sayyidina Khalid bin Walid Ra (Panglima Besar Tak Terkalahkan)
Sejarah Islam: Sayyidina Khalid bin Walid Ra (Panglima Besar Tak Terkalahkan)
Di tengah padang pasir yang luas membentang dan panasnya terik matahari Jazirah Arab, lahirlah seorang anak dari keluarga terkemuka Bani Makhzum, salah satu kabilah Quraisy yang paling disegani di Makkah. Ia diberi nama Khalid bin Walid. Ayahnya, Walid bin Mughirah, adalah seorang tokoh bangsawan dan pemimpin yang kaya raya, dihormati, dan memiliki pengaruh besar dalam masyarakat Quraisy.
Khalid bin Walid Ra tumbuh dalam lingkungan aristokrat Quraisy yang menanamkan nilai keberanian, keangkuhan, dan loyalitas terhadap suku. Sejak kecil, ia telah menunjukkan kecerdasan dalam berpikir dan ketangkasan dalam bertempur. Ia menguasai strategi perang bahkan sebelum usianya dewasa, dan tubuhnya yang tegap serta keterampilannya mengendalikan kuda membuatnya dijuluki sebagai salah satu pendekar muda terbaik di Makkah.
Namun, seperti banyak bangsawan Quraisy pada masa itu, Khalid bin Walid Ra pada awalnya adalah musuh Islam. Ia memusuhi Rosulullah Saw dan para pengikutnya dengan penuh semangat. Salah satu peran penting yang dimainkan Khalid bin Walid Ra dalam permusuhannya terhadap Islam adalah ketika ia memimpin pasukan Quraisy dalam Perang Uhud, di mana strategi serangan dari belakang yang ia lakukan menyebabkan kekalahan kaum Muslimin setelah pasukan pemanah Rosulullah Saw melanggar perintah. Ini adalah salah satu titik di mana Khalid bin Walid Ra menunjukkan betapa jeniusnya ia dalam urusan militer, meski saat itu ia masih berada di pihak musuh.
Namun, waktu dan kebenaran memiliki cara tersendiri dalam menundukkan hati manusia. Beberapa tahun setelah Perang Uhud, Khalid bin Walid Ra mulai merasakan gejolak dalam hatinya. Ia menyaksikan bahwa Islam semakin kuat dan Rosulullah Saw bukan hanya seorang pemimpin spiritual, tetapi juga negarawan dan pemimpin militer yang luar biasa. Khalid bin Walid Ra melihat bahwa agama ini tidak mungkin tumbang dan kebenaran ada padanya.
Pada tahun ke-8 Hijriyah, Khalid bin Walid Ra melakukan perjalanan ke Madinah untuk masuk Islam. Ia ditemani oleh Amr bin Ash Ra dan Utsman bin Thalhah Ra. Ketika bertemu Rosulullah Saw, beliau menyambut Khalid bin Walid Ra dengan senyum penuh kasih. Khalid bin Walid Ra meminta maaf atas masa lalunya, dan Rosulullah Saw menjawab dengan kalimat yang menenangkan, “Islam menghapus dosa-dosa yang lalu.”
Sejak hari itu, Khalid bin Walid Ra menjadi muslim yang taat dan mulai menulis sejarah baru dalam kehidupannya. Khalid bin Walid Ra pun bergabung dengan Islam dengan semangat membara di hatinya untuk menjemput iman dan hidayah Alloh Swt.
Awal Perjuangan di Jalan Islam
Tak lama setelah keislamannya, Khalid bin Walid Ra langsung menunjukkan kesetiaannya kepada Allah dan rosul-Nya. Ia mulai ikut serta dalam berbagai ekspedisi militer. Salah satu perang besar pertama yang ia ikuti adalah Perang Mu’tah, melawan pasukan Romawi. Dalam perang ini, tiga komandan Muslim gugur satu per satu: Zaid bin Haritsah Ra, Ja’far bin Abi Thalib Ra, dan Abdullah bin Rawahah Ra. Dalam situasi genting itu, Khalid bin Walid Ra diminta oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw berdasarkan hasil musyawarah untuk mengambil alih kepemimpinan pasukan militer Islam.
Dengan pasukan yang jauh lebih sedikit dibanding Romawi, Khalid bin Walid Ra berhasil memimpin pasukan Muslimin keluar dari kepungan musuh dengan strategi brilian. Ia mengubah arah pasukan dan mengelabui lawan seolah-olah bala bantuan telah datang. Ini membuat pasukan Romawi mundur dan kaum muslimin selamat. Karena keberaniannya, Rosulullah Saw memberi gelar kehormatan kepada Khalid bin Walid Ra, yaitu “Saifullah al-Maslul”, yang berarti Pedang Allah yang Terhunus.
Kemenangan demi Kemenangan
Setelah wafatnya Rosulullah Saw, Khalid bin Walid Ra tetap menjadi tokoh militer penting di bawah kepemimpinan Khalifah Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq. Saat murtad mulai menyebar dan muncul nabi palsu seperti Musailamah Al-Kazzab, Khalid bin Walid Ra memimpin pasukan dalam Perang Yamamah dan berhasil menumpas pasukan Musailamah. Meski korban di pihak Muslim sangat besar, kemenangan diraih dan bahaya besar berhasil dieliminasi.
Khalid bin Walid Ra kemudian memimpin berbagai ekspedisi ke wilayah Syam dan Irak dalam rangka penyebaran Islam dan membebaskan wilayah-wilayah dari penjajahan Romawi dan Persia. Dalam Perang Yarmuk, yang menjadi salah satu perang terbesar melawan Romawi, Khalid bin Walid Ra memainkan peran sentral dalam merancang dan melaksanakan strategi yang menyebabkan kekalahan telak Romawi.
Keberhasilannya membuatnya ditakuti dan dihormati, bukan hanya oleh lawan, tetapi juga oleh kawan. Namun, justru di puncak kejayaannya, Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab Ra mengganti posisi Khalid bin Walid Ra sebagai panglima, bukan karena tidak percaya, melainkan karena ingin menegaskan bahwa kemenangan bukan karena pribadi seorang jenderal, tapi karena pertolongan Alloh Swt. Khalid bin Walid Ra menerimanya dengan lapang dada dan tetap berjuang sebagai prajurit biasa. Ia tidak pernah mengeluh atau memberontak, serta menunjukkan kebesaran hati dan keikhlasannya dalam berjihad di jalan Allah.
Selain dipandang sebagai orang yang disegani, Khalid bin Walid Ra juga menjadi panglima besar tak terkalahkan karena dia tidak pernah kalah strategi dari musuh. Dia menjadi seorang ahli militer sekaligus prajurit yang tak kenal lelah dan tak pernah kalah dalam berbagai pertempuran sengit melawan kaum kafir harbi.
Akhir Kehidupan Sang Jenderal
Masa-masa kejayaan Khalid bin Walid Ra di medan perang tidak bertahan selamanya. Setelah berbagai kemenangan, Khalid bin Walid Ra hidup dalam keadaan sederhana, jauh dari kemewahan. Ia wafat bukan di medan perang sebagaimana harapannya, melainkan di atas ranjang, sebuah takdir yang membuat hatinya gundah.
Dalam kata-kata terakhirnya, ia berkata dengan nada sedih, “Aku telah ikut serta dalam puluhan pertempuran. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku kecuali terdapat bekas luka pedang, tombak, atau panah. Namun, lihatlah aku! Aku mati di atas ranjang seperti matinya seekor unta. Semoga mata para pengecut tidak pernah tidur!”
Hingga akhirnya, Khalid bin Walid Ra wafat pada tahun 21 H (sekitar tahun 642 M) di Homs, Suriah. Ia meninggalkan warisan luar biasa sebagai salah satu panglima terbesar dalam sejarah Islam. Kecerdasan strateginya, keberaniannya luar biasa, dan keikhlasan dalam berjuang sebagai mujahid Islam sejati menjadikannya teladan yang agung sepanjang zaman.
*****
Bekasi, 5 November 2025, 16:44 WIB.
—Andrian Dharma Yudhistira

Komentar
Posting Komentar