Sejarah Islam: Sayyidina Bilal bin Rabah Ra (Azan yang Menembus Langit)



Sejarah Islam: Sayyidina Bilal bin Rabah Ra (Azan yang Menembus Langit)


Angin gurun bertiup lembut di atas bukit pasir Makkah yang membawa debu yang beterbangan di langit Makkah. Di balik bayang-bayang Ka'bah, seorang lelaki berkulit hitam berdiri, matanya berkaca-kaca menatap ke arah rumah suci (rumah Nabi Muhammad Saw) itu. Dialah Bilal bin Rabah yang menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf.


Bilal bin Rabah Ra adalah orang Makkah dari seorang ibu budak asal Habsyi dan ayah Arab. Ia besar di bawah pengawasan keluarga Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh Quraisy yang paling keras menentang Nabi Muhammad Saw.


Saat Islam mulai disebarkan secara diam-diam, bisikan kebenaran mulai meresap ke hati-hati yang bersih. Termasuk hati Bilal bin Rabah Ra yang tersentuh dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw. Dalam diamnya, semenjak mengetahui Nabi Muhammad Saw membawa agama penuh kedamaian, dia mulai memendam cinta kepada Nabi dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Malam-malam sunyi, ketika para tuannya tertidur, Bilal bin Rabah Ra mengintip dari kejauhan rumah Arqam bin Abil Arqam, tempat Nabi menyampaikan wahyu kepada orang-orang Makkah. Setiap kata yang keluar dari lisan Nabi terasa seperti embun yang menyejukkan dahaga di hatinya yang lama terpenjara dalam panasnya neraka dunia.


Lalu datanglah waktu di mana ia bersyahadat. “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”


Kabar keislamannya menyebar seperti api membakar padang ilalang. Umayyah marah besar dan murka kepada Bilal ketika mendengar Bilal mengakui kenabian Nabi Muhammad Saw dan menyebut nama tuhannya Nabi Muhammad Saw. Umayyah yang murka lantas memanggil Bilal bin Rabah Ra ke hadapannya.


Di hadapan Bilal bin Rabah Ra, Umayyah membentak, “Engkau akan kami hajar, wahai budak hitam!”


Bilal bin Rabah Ra diseret ke tengah padang pasir, ditelanjangi, lalu ditindih dengan batu besar di bagian perutnya. Setiap pukulan dan cambukan tak membuat imannya kepada Alloh dan rosul-Nya goyah. Dia tetap berpegang teguh dengan kebenaran Islam yang dibawa oleh Alloh Swt dan rosul-Nya.


Ketika menghadapi siksaan dari Umayyah, Bilal bin Rabah Ra menyebut, “Ahad! Ahad!”

(Alloh Yang Maha Esa! Alloh Yang Maha Esa!)


Orang-orang yang menyaksikan itu takjub. Bukan karena kekejaman Umayyah, tetapi memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang sudah biasa di kalangan masyarakat Makkah. Karena keteguhan seorang budak yang menolak menyebut nama berhala, nyawanya pun menjadi sasaran penyiksaan orang-orang kafir Quraisy. Kata "Ahad" itu terus diucapkan Bilal bin Rabah Ra meski nyawanya berada di ujung tanduk.


Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra—salah satu sahabat dekat Nabi Muhammad Saw—yang saat itu menyaksikan Bilal bin Rabah Ra disiksa oleh Umayyah bin Khalaf tidak bisa menahan diri melihat penderitaan Bilal bin Rabah Ra. Ia menghampiri Umayyah bin Khalaf dengan berjalan pelan sambil menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang betapa teguhnya seorang Bilal bin Rabah Ra bertahan dari penyiksaan dan bertahan dengan keimanan baru terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.


Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq bertanya kepada Umayyah, “Berapa yang kau inginkan untuk budakmu itu?”


Umayyah menyeringai. “Kau benar-benar menginginkannya? Dia tidak ada gunanya. Tapi karena kau ingin, cukup menebusnya dengan harga tujuh dinar emas!”


Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra mengeluarkan uang itu tanpa tawar-menawar dan tanpa ragu dalam sebuah kantong kecil yang dibawa di sakunya. Setelah memerdekakan Bilal bin Rabah Ra, ikatan tali di tubuh Bilal bin Rabah Ra dilepaskan, lalu dia berdiri di hadapan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra.


Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra lantas berkata kepada Umayyah sambil menyerahkan uang yang diminta, “Ambillah! Dan ketahuilah, aku membebaskannya karena Alloh.”


Dengan tubuh lemah dan penuh luka di sekujur tubuh, Bilal bin Rabah Ra menatap Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra. Air matanya jatuh dan deras membasahi kedua pipinya. Bukan karena sakit, tetapi karena takjub, masih ada manusia yang rela menebusnya dengan harga yang mahal untuk kebebasannya dalam mempertahankan iman.


Bilal bin Rabah Ra dibawa ke hadapan Nabi Muhammad Saw oleh Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra. 


Nabi Muhammad Saw tersenyum kepada Bilal bin Rabah Ra. “Wahai Bilal, tidak ada seorang pun yang lebih mulia di sisi Alloh dibanding engkau hari ini.”


Bilal tersenyum mendengar sabda mulia Nabi Muhammad Saw. Dengan semangat dan keimanan yang membara, dia menjadi seorang muslim yang taat kepada Alloh dan rosul-Nya. Sejak saat itu, Bilal bin Rabah Ra menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yang paling berani meneriakkan kebenaran dan cahaya dari langit dalam agama Islam.


Ketika banyak orang kafir Quraisy melempari Nabi Muhammad Saw dengan batu, Bilal bin Rabah Ra tetap teguh dan makin teguh keimanannya kepada Alloh dan Nabi Muhammad Saw. Hingga di suatu hari, Nabi Muhammad Saw mengajak para pengikutnya—termasuk Bilal bin Rabah Ra—untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.


Hijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah Al-Munawaroh) adalah membuka lembaran baru. Nabi Muhammad Saw memutuskan untuk membangun Masjid Nabawi. Bilal bin Rabah Ra ikut serta dalam pembangunan Masjid Nabawi. Dengan semangat yang dilandasi keimanan yang makin tinggi, Bilal bin Rabah Ra dan para sahabat Nabi Muhammad Saw yang lain berhasil menyelesaikan pembangunan Masjid Nabawi.


Hari demi hari berlalu. Di Yatsrib, Islam tumbuh pesat. Banyak dari kaum Anshor memeluk Islam. Pemeluk Islam makin bertambah seiring bergulirnya waktu. Islam menjadi cahaya terang benderang yang menerangi pikiran dan hati penduduk Yatsrib. Kemudian, nama Yatsrib diganti menjadi Madinah Al-Munawaroh.


Hingga di suatu hari setelah Masjid Nabawi selesai dibangun, kaum muslimin butuh seseorang untuk mengumandangkan panggilan salat. Abdullah bin Zaid Al-Anshori Ra bercerita kepada Nabi Muhammad Saw keesokan harinya bahwa dia bermimpi melihat seorang lelaki melafazkan azan dan iqomah.


Dalam cerita mimpinya, Abdullah bin Zaid Al-Anshori Ra berkata kepada Nabi Muhammad Saw, “Lelaki itu menyarankan agar azan dan iqomah digunakan sebagai pertanda waktu salat telah datang.”


Setelah selesai mendengarkan cerita mimpi Abdullah bin Zaid Al-Anshori Ra, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Itu adalah mimpi yang benar. Insyaa Alloh. Ajarkanlah kepada Bilal karena suaranya lebih merdu daripadamu.”


Semenjak mendengar bahwa Nabi Muhammad Saw menitahkan dan semenjak Bilal bin Rabah Ra diajarkan oleh Abdullah bin Zaid Al-Anshori Ra untuk mengumandangkan azan ketika di Masjid Nabawi, Bilal bin Rabah Ra bersedia untuk mengumandangkan azan. Nabi Muhammad Saw pun menyuruh Bilal bin Rabah Ra untuk mengumandangkan azan untuk pertama kalinya di dunia.


Di atas mimbar Masjid Nabawi, Bilal bin Rabah Ra berdiri tegak dan mengucapkan azan dengan suara lantang dan merdu.


Allohu akbar Allohu akbar (2×)

Asyhadu an laa ilaaha illallah (2×)

Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh (2×)

Hayya 'alash sholaaah (2×)

Hayya 'alal falaah (2×)

Allohu akbar Allohu akbar

Laa ilaaha illalloh


Seisi Madinah terdiam sambil menyaksikan azan yang dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah Ra. Banyak hati bergetar. Banyak wajah tunduk saat mendengar azan. Nabi Muhammad Saw mengajarkan para sahabat untuk menjawab setiap kalimat azan yang dikumandangkan.


Selesai azan, Nabi Muhammad Saw tersenyum bangga. “Wahai Bilal, suara azanmu menggema hingga menembus langit.”


“Alhamdulillaah,” ucap para sahabat Nabi Muhammad Saw, termasuk Bilal bin Rabah Ra.


Sejak hari itu, Bilal bin Rabah selalu mengumandangkan azan setiap hari di lima waktu tanpa tergantikan dan menjadi muazin kesayangan Nabi Muhammad Saw. Sejak hari itu pula, setiap kali mendengar suara azan Bilal bin Rabah Ra menggema dari atas mimbar Masjid Nabawi, semua kegiatan masyarakat Madinah terhenti, lalu mereka berkumpul di Masjid Nabawi untuk melaksanakan salat. Bahkan pada zaman Nabi Muhammad Saw masih ada, azan digunakan pada saat menguburi jasad seorang mukmin setiap kali ada orang mukmin yang meninggal dunia.


*****


Hari di mana wafatnya Nabi Muhammad Saw pada tahun 11 Hijriah adalah hari paling berduka bagi seorang Bilal bin Rabah Ra. Dia mengikuti Nabi Muhammad Saw hingga ke liang lahat, bahkan menjadi muazin yang mengumandangkan azan di telinga Nabi Muhammad Saw ketika jasad Nabi yang mulia sudah berada di liang lahat.


Sejak Nabi Muhammad Saw selesai dimakamkan, dia tak sanggup berdiri di mimbar Masjid Nabawi. Dia merasa berat untuk melakukan azan tanpa kehadiran Nabi Muhammad Saw. Meski berat hati dan dalam keadaan berduka, Bilal bin Rabah Ra tetap mengumandangkan azan.


Saat hendak mengumandangkan azan, lidahnya tercekat oleh air mata ketika menyebut, “Asyhadu anna Muhammadar ... Rosululloh!”


Kesedihannya yang awalnya hanya sebatas diam menjadi tangis deras yang membasahi kedua pipinya hingga mulutnya. Hari pertama tanpa kehadiran Nabi Muhammad Saw menjadi hari yang hampa bagi Bilal bin Rabah Ra. Namun, dia mampu menyelesaikan azan dan iqomahnya hingga tuntas meski tangis mengisi kekosongan wajahnya.


Setelah mengumandangkan azan di hari pertama tanpa Nabi Muhammad Saw, dia turun dari tempat azan dan bersumpah takkan mengumandangkan azan lagi karena setiap kali itu pula dia selalu teringat dengan kenangan terindah bersama Nabi Muhammad Saw. Hingga beberapa hari setelah Nabi Muhammad Saw wafat, pada hari di mana Bilal bin Rabah sudah tak sanggup lagi mengumandangkan azan, dia berpikir untuk pergi jauh dari Madinah Al-Munawaroh.


Azan tersebut di hari terakhirnya berada di Madinah pun menjadi azan terakhir Bilal bin Rabah Ra. Bilal bin Rabah Ra merasa sangat kehilangan dan selalu teringat dengan kenangan saat Nabi Muhammad Saw masih ada. Hingga ketika selesai melaksanakan salat, Bilal bin Rabah kembali menangis. Namun kali ini, dia menangis sejadi-jadinya.


Tak lama setelah itu, Bilal bin Rabah berpamitan kepada Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq dan beberapa sahabat Nabi Muhammad Saw yang lain untuk pergi dan menetap di Syam (sekarang Suriah). Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra mengizinkannya dan menerima alasan kepergian Bilal bin Rabah Ra dari Madinah Al-Munawaroh menuju Syam sambil memenuhi panggilan jihad dari Khalifah Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq untuk membebaskan wilayah Syam yang saat itu dipimpin oleh pemerintah zalim.


*****


Tahun demi tahun berlalu. Sudah beberapa tahun lamanya, Bilal bin Rabah Ra meninggalkan Madinah Al-Munawaroh dan Masjid Nabawi. Di masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khaththab Ra, Bilal bin Rabah Ra telah menjadi tua dan uzur. Dia hidup di Syam hingga melupakan Nabi Muhammad Saw. 


Hingga di suatu hari, ketika Bilal bin Rabah Ra berada di rumah, dia kedatangan Khalifah Sayyidina Umar bin Khaththab Ra. Khalifah Sayyidina Umar bin Khaththab Ra meminta, “Wahai Bilal, kembalilah ke Madinah untuk mengumandangkan azan.”


“Aku tidak bisa melakukannya lagi, wahai 'Umar,” jawab Bilal bin Rabah Ra.


“Apa yang menyebabkan engkau tidak ingin kembali, wahai Bilal?”


“Aku akan selalu teringat kepada Nabi apabila aku mengumandangkan azan lagi di sana, wahai 'Umar.” Bilal menangis hingga tersedu-sedu.


Hingga akhirnya, pertemuan antara Khalifah Sayyidina 'Umar bin Khaththab Ra berakhir dengan tangan hampa. Namun, dia memaklumi alasan Bilal bin Rabah Ra dan kembali pulang ke Madinah untuk kembali memimpin negara. Dia pun tidak bisa memaksakan kehendak Bilal bin Rabah Ra untuk tidak mengumandangkan azan lagi di Masjid Nabawi.


Bilal bin Rabah Ra kembali melakukan kegiatan hariannya seperti biasa. Tanpa mengenang Nabi Muhammad Saw. Tanpa tangis kehilangan atas kepergian Nabi Muhammad Saw. Hingga di suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw.


Dalam mimpinya, Bilal bin Rabah Ra ditanya oleh Nabi Muhammad Saw, “Wahai Bilal, apa yang menghalangimu untuk mengunjungiku? Tidakkah engkau rindu kepadaku, wahai Bilal?”


Setelah pertanyaan itu terucap dari bibir Nabi Muhammad Saw dalam mimpinya, Bilal bin Rabah Ra seketika terbangun dari tidurnya. Dia menangis sejadi-jadinya hingga matanya sembab dan hingga menangis histeris karena rindunya kepada Nabi Muhammad Saw yang sangat mendalam.


Istri dari Bilal bin Rabah Ra yang melihat suaminya menangis bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai suamiku?” 


“Aku bermimpi bertemu dengan Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam. Dia ingin aku mengunjunginya.”


Istri Bilal bin Rabah Ra pun terdiam sambil memahami makna dari mimpi suaminya. Kemudian, Bilal bin Rabah Ra segera beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengemas barangnya untuk bergegas menuju Madinah Al-Munawaroh dalam keadaan mata yang masih sembab karena tangis kerinduannya terhadap Nabi Muhammad Saw yang tiada henti dan tiada habisnya.


Keesokan harinya, Bilal bin Rabah Ra bersiap kembali ke Madinah. Dia menaiki kuda untuk bisa cepat sampai di Madinah, yaitu kota yang telah lama dia tinggalkan, karena terlalu banyak kenangan yang tak sanggup ditanggung oleh hatinya selama masih hidup di alam dunia.


Sepanjang perjalanan menuju Madinah Al-Munawaroh, air matanya terurai tanpa henti. Pikirannya hanya terfokus kepada rasa rindunya terhadap Nabi Muhammad Saw. Rasa rindu itu tak akan pernah terobati hingga dirinya bertemu dengan Nabi Muhammad Saw di rahmatullah.


Setibanya di Madinah, dia menemui Hasan kecil dan Husain kecil (2 orang cucu kesayangan Nabi Muhammad Saw). Saat bertemu lagi, Bilal bin Rabah Ra langsung memeluk Hasan kecil dan Husain kecil sambil menangis hingga pelukannya merenggang dari tubuh kedua cucu kesayangan Nabi Muhammad Saw.


Mereka berdua meminta kepada Bilal bin Rabah Ra, “Wahai Paman Bilal, kumandangkanlah azan seperti dahulu. Kami ingin mengenang kakek kami.”


Khalifah Sayyidina Umar bin Khaththab Ra yang saat itu berdiri di hadapan Bilal pun meminta, “Azanlah untuk kami sekali saja, wahai Bilal.”


Ketika waktu salat datang, Bilal bin Rabah Ra naik ke tempat azan untuk memenuhi permintaan para sahabat Nabi Muhammad Saw yang lain. Suaranya masih sama merdu dan lantangnya. Ketika Bilal bin Rabah Ra mengumandangkan azan di atas mimbar Masjid Nabawi, semua kegiatan orang-orang se-Madinah berhenti total.


“Suara itu? Apakah Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam kembali hidup?” tanya salah seorang penduduk Madinah.


Orang-orang Madinah keluar dari rumah mereka, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semuanya menyaksikan kumandang azan Bilal bin Rabah. Tidak ada hari yang lebih menyayat hati di Madinah selain wafatnya Nabi Muhammad Saw. Keluarnya orang-orang seantero Madinah bagaikan air yang berhamburan keluar dari sumur.


Semua orang-orang seantero Madinah berkumpul dan mendekat ke Masjid Nabawi. Seantero Madinah pun seketika kembali mengenang semua kenangan indah bersama Nabi Muhammad Saw karena suara itu membawa mereka kembali ke masa saat Nabi Muhammad Saw masih hidup. Hati penduduk seantero Madinah bergetar dan berguncang.


Di atas mimbar, dengan suara lantang dan merdu, Bilal bin Rabah Ra mengumandangkan, “Allohu akbar, Allohu akbar! Allohu akbar Allohu akbar”


Seketika seantero Madinah terdiam dan hening sambil mendengarkan kumandang azan yang telah lama hilang di bumi Madinah Al-Munawaroh.


Bilal mengumandangkan lagi, “Asyhadu an laa ilaaha illallah!”


Seketika seantero Madinah mulai terenyuh, bahkan ada yang mulai menangis kecil.


Asyhadu an laa ilaaha illallah! Asyhadu anna Muhammad ...!”


Saat hendak mengucapkan, “Asyhadu Anna Muhammadar rosululloh,” lidah Bilal bin Rabah menjadi kelu dan tercekat oleh air mata yang mengalir tanpa henti dan makin deras. Semua orang Madinah menangis histeris.


Sayyidina Umar bin Khathab Ra adalah orang yang menangis paling keras di antara semua sahabat Nabi Muhammad Saw yang sedang menangis kala itu. Seolah-olah, ketika azan berkumandang dan ada Nabi Muhammad Saw yang hadir kembali di tengah mereka. Hingga akhirnya, ketika mengucapkan nama "Muhammadar Rosululloh", Bilal bin Rabah Ra tak sanggup melanjutkan azan sampai jatuh pingsan.


Ketika tersadar dari pingsannya, Bilal bin Rabah Ra kembali menangis hingga tersedu-sedu. Karena tak kuasa menahan tangis karena kerinduannya terhadap Nabi Muhammad Saw, dia memutuskan untuk kembali pulang ke Syam.


Hari itu menjadi azan terakhir Sayyidina Bilal bin Rabah Ra. Dia berpamitan kepada Khalifah Sayyidina Umar bin Khaththab Ra dan kepada para sahabat Nabi Muhammad Saw. Tak terkecuali kepada Hasan kecil dan Husain kecil. Dia pulang dengan membawa sisa-sisa kenangan dan kerinduan kepada Nabi Muhammad Saw.


Setibanya di rumahnya di Syam, Bilal bin Rabah Ra menjalani kehidupan seperti biasa lagi meskipun masih ada sisa kesedihan karena rindu kepada Nabi Muhammad Saw. Dia pun hidup tenang, tenteram, dan damai di sana bersama istri dan anak-anaknya. 


Beberapa tahun kemudian, Bilal bin Rabah Ra jatuh sakit. Dia pun dirawat oleh istri tercintanya dengan penuh kasih dan sayang. Namun, yang Bilal bin Rabah Ra ingat menjelang akhir kehidupannya hanyalah kerinduannya terhadap Nabi Muhammad Saw.


Di akhir hayatnya, istrinya menangis. “Wahai Bilal, betapa sedihnya aku akan kehilanganmu.”


Bilal justru berkata sambil tersenyum di atas pembaringannya, “Tidak, wahai istriku. Justru hari ini adalah hari yang menggembirakan. Besok, aku akan bertemu kekasihku, Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.”


Ketika menjelang wafatnya, Bilal bin Rabah Ra sempat mengucapkan kalimat syahadat sampai napas terakhirnya. Hingga akhirnya, dia wafat dalam keadaan tersenyum dan husnul khotimah. Menurut sejarah, makam Bilal terletak di Bab Al-Saghir, sebuah kompleks pemakaman kuno dan bersejarah di Damaskus, Syam (sekarang bernama Suriah).


Sosok Bilal bin Rabah Ra bukan hanya tentang azan, tetapi juga tentang perjuangan, iman yang tak tergoyahkan, dan cinta yang tulus kepada Alloh Swt dan rosul-Nya. Dia pun menjadi inspirasi bagi para muazin di masa kini dan masa depan. Dia pun menjadi simbol bahwa cinta kepada Alloh Swt dan rosul-Nya adalah harga mutlak yang tak akan pernah bisa dibeli dengan apa pun sekalipun dengan emas sebesar Gunung Uhud.


*****


Bekasi, 5 November 2025, 16:57 WIB.

—Andrian Dharma Yudhistira

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Islam: Zaman Kekhalifahan Islam

Sejarah Islam: Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a (Khulafaur Rosyidin Pertama)