Orang Munafik di Zaman Rosululloh saw: Abdullah bin Ubay bin Salul



Orang Munafik di Zaman Rosululloh SAW: Abdullah bin Ubay bin Salul


Abdullah bin Ubay adalah seorang kepala suku dari Bani Khazraj di Madinah. Sebelum kedatangan Rosululloh SAW dan kaum Muhajirin, ia hampir diangkat menjadi raja di Yatsrib (Madinah) dan menyatukan suku Aus dan suku Khazraj yang sebelumnya berseteru. Namun, mayoritas penduduk Madinah lebih mendukung, membela, dan menyambut kehadiran Rosululloh SAW dengan penuh suka cita.


Kemudian, suku Aus dan suku Khazraj meminta kepada Rosululloh SAW agar menjadi pemimpin politik dan agama yang menyatukan penduduk, khususnya sengketa yang terjadi di antara suku Aus dan suku Khazraj, juga mendirikan negara Islam pertama dengan konstitusi tertulis yang dikenal sebagai Piagam Madinah.


Banyak dari penduduk Madinah menyatakan masuk Islam. Sejak saat itu, Abdullah bin Ubay merasa tersaingi dan mulai menganggap Rosululloh SAW sebagai penghambat tujuannya untuk mendapatkan kekuasaan sebagai raja Yatsrib (Madinah Al-Munawaroh). Karena sedikit sekali yang mendukung keberadaannya sebagai calon raja dan sebagian besar kaumnya memeluk Islam secara tulus, ia secara terbuka menyatakan diri sebagai muslim.


Hari demi hari, pengikut Rosululloh SAW makin bertambah pesat. Hal ini membuat Abdulloh bin Ubay makin merasa benci kepada Rosululloh SAW. Semenjak itu, Abdullah bin Ubay mulai melancarkan strategi menghasut, memfitnah, dan mengadu domba secara halus dan perlahan-lahan kepada beberapa sahabat Rosululloh SAW baik dari kalangan kaum Anshor ataupun kaum Muhajirin, bahkan dengan Rosululloh SAW sendiri pun dia tidak segan. Dia pun menyebarkan propaganda supaya orang-orang Muhajirin membenci, bahkan secara sembunyi-sembunyi menghina Rosululloh SAW dari belakang.


Dari hasil jerih payahnya menyebarkan propaganda terhadap Rosululloh SAW secara perlahan di belakang Rosululloh SAW, Abdullah bin Ubay mendapatkan banyak simpatisan. Namun, simpatisan Abdullah bin Ubay adalah orang-orang munafik yang secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi ikut membenci Rosululloh SAW.


Ketika panggilan jihad pada Perang Uhud (Sabtu, 23 Maret 625 M (7 Syawal 3 H)) yang mana jumlah pasukan umat Islam sebanyak 1.000 orang, Abdullah bin Ubay ikut serta dalam pertempuran tersebut. Dia dipercaya oleh Rosululloh SAW untuk memimpin sepertiga pasukan umat Islam, yaitu 300 prajurit. Pertempuran pun berlangsung selama 7 hari.


Pada saat berperang, Abdullah bin Ubay mengabaikan pesan Rosululloh SAW dan mundur dari medan pertempuran bersama 300 pasukannya. Tanpa mengindahkan adanya prajurit umat Islam yang gugur, Abdullah bin Ubay tetap menyatakan mundur dari medan pertempuran. Pembelotan ini diketahui oleh beberapa orang sahabat Rosululloh SAW dan sempat membuat para sahabat merasakan keanehan, bahkan geram dengan sikap Abdullah bin Ubay.


Hal ini sempat membuat umat Islam kekurangan semangat berperang karena jumlah pasukan umat Islam berkurang drastis. Ditambah lagi, pasukan umat Islam sempat mendengar bahwa Rosululloh SAW telah mati dalam medan Pertempuran Uhud. Namun Anas bin Nadhar Ra berusaha menyemangati para sahabat serta kaum muslimin lainnya sehingga umat Islam kembali berperang dengan gagah berani dengan semangat yang tersisa. Alhasil, pertempuran dimenangkan oleh umat Islam atas kehendak Alloh SWT.


Sementara itu, Abdullah bin Ubay tidak senang dengan kemenangan umat Islam. Ditambah lagi, ternyata Rosululloh SAW masih hidup. Rencana Abdullah bin Ubay untuk menghalangi kemenangan umat Islam dan membuat Rosululloh SAW mati di medan pertempuran pun gagal. Namun setelah pertempuran selesai dan umat Islam kembali pulang ke Madinah dengan membawa kemenangan, Abdullah bin Ubay mengelak dengan berbagai alasan dan meminta maaf supaya dia tetap dipandang baik dan tidak bersalah di hadapan Rosululloh SAW dan para sahabatnya. 


Para sahabat yang geram dengan Abdullah bin Ubay pun tidak dapat berbuat banyak karena perintah Rosululloh SAW untuk tetap bersikap baik kepada Abdullah bin Ubay. Kebijaksanaan Rosululloh SAW pun diterima oleh pasukan umat Islam yang tersisa dan bertahan berperang hingga perang selesai meski pamanda Rosululloh SAW, yaitu Hamzah bin Abdul Mutholib Ra gugur dalam medan pertempuran. Suasana panas setelah Perang Uhud pun mereda.


Semenjak Perang Uhud selesai dan umat Islam memperoleh kemenangan, perangai Abdullah bin Ubay menimbulkan keganjilan di mata para sahabat. Mulai dari ketika Abdullah bin Ubay berucap, dia selalu berbohong kepada orang-orang beriman; mulai dari berjanji, dia ingkar terhadap orang-orang beriman; mulai dari dia dipercaya, dia berkhianat kepada orang-orang beriman; hingga mulai dari dia berselisih dengan para sahabat Rosululloh SAW pun dia berbuat dzalim, mulai dari secara sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan.


Sikap dan ucapan Abdullah bin Ubay di hadapan Rosululloh SAW dan para sahabatnya makin hari makin memperlihatkan kemunafikan. Itu hanya terlihat oleh beberapa sahabat Rosululloh SAW, termasuk Rosululloh SAW pun sebenarnya sudah tahu, tetapi Rosululloh SAW hanya diam dan tidak membenci apalagi memendam dendam kepada Abdullah bin Ubay. Hanya saja, semua prasangka membutuhkan banyak bukti nyata dan banyak saksi untuk membenarkannya.


Setelah mengetahui dengan jelas kemunafikan Abdullah bin Ubay, Rosululloh SAW meminta pendapat kepada Sa'ad bin 'Ubadah Ra ketika sedang bersama.


Sa'ad bin 'Ubadah berkata kepada Rosululloh SAW, "Maafkanlah dia wahai Rasulullah dan berlapang dadalah kepadanya. Demi Allah, Allah telah memberi Anda apa yang telah diberikan kepada Anda. Sesungguhnya dahulu penduduk telaga ini (penduduk Madinah) telah bersepakat untuk memilihnya dan mengangkatnya (sebagai pemimpin), tetapi setelah muncul kebenaran yang diberikan kepada Anda (Islam), sehingga menghalanginya menjabat sebagai pemimpin, maka seperti itulah perbuatannya sebagaimana yang Anda lihat." 


Akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memaafkannya dengan lapang dada. Tidak ada dendam maupun kebencian di hati Rosululloh SAW kepada Abdullah bin Ubay yang sudah mulai jelas memperlihatkan kemunafikannya. Untuk beberapa waktu, Rosululloh SAW pun menganggap kesalahan Abdullah bin Ubay berasal dari kekurangannya dalam memimpin umat Islam. Dengan kata lain, Rosululloh SAW menyalahkan dirinya sendiri atas kemunafikan Abdullah bin Ubay.


Suatu hari (pada Oktober 630 M atau 9 H), Abdullah bin Ubay mengadakan pertemuan dengan beberapa simpatisannya. Dia mendukung pembangunan Masjid Dhirar yang digagasi oleh Abu Amir Ar-Rahib (seorang pendeta Nasrani dari suku Khazraj) yang menolak untuk masuk Islam dan ingin menjadikan orang-orang munafik sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam dari dalam. Tempat tersebut kelak akan menjadi tempat berkumpulnya Abdullah bin Ubay bersama para simpatisannya yang diberi nama Masjid Dhirar. Letaknya tidak jauh dari Masjid Quba.


Singkat cerita, pembangunan Masjid Dhirar pun selesai sebelum Rosululloh SAW dan pasukan umat Islam berangkat menuju Tabuk untuk melaksanakan Perang Tabuk. Masjid tersebut kelak akan menjadi sarana ibadah bagi Abdullah bin Ubay dan para pengikut setia. Tak hanya itu, mereka pun beralasan kepada Rosululloh SAW bahwa masjid itu dibangun untuk menampung orang-orang yang sakit dan kesulitan di malam musim dingin serta orang-orang yang lemah.


Di sanalah kelak Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya akan selalu berkumpul, bertukar pikiran, dan bertukar informasi tentang kondisi dan situasi perkembangan umat Islam yang makin hari makin berkembang pesat, lalu membagikan berbagai informasi yang mereka dapatkan mengenai perkembangan umat Islam kepada orang-orang kafir harbi agar mendapatkan berbagai macam dukungan tanpa sepengetahuan orang-orang beriman.


Abdullah bin Ubay sering kali mengadakan pertemuan dengan orang-orang Yahudi dan kaum kafir Quraisy dalam Masjid Dhirar tersebut. Banyak ide dan gagasan yang diperoleh dari orang-orang Yahudi dan kafir Quraisy yang diperoleh Abdullah bin Ubay. Di masjid tersebut pula, Abdullah bin Ubay beserta para pengikutnya melaksanakan pertemuan rahasia dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Masjid Dhirar menjadi tempat terciptanya berbagai propaganda.


Sepulang dari Perang Tabuk, Rosululloh SAW diajak oleh Abdullah bin Ubay serta para pengikutnya untuk melaksanakan salat di Masjid Dhirar sebagai tanda bahwa Rosululloh SAW merestui dan meresmikan berdirinya masjid tersebut. Namun sebelum melaksanakan salat di Masjid Dhirar, Rosululloh SAW menerima wahyu dari Alloh SWT melalui malaikat Jibril As, yaitu QS. At-Taubah ayat 107—110.


وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ


“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Alloh dan rosul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).”

(QS. At-Taubah ayat 107)


لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ


“Janganlah kamu menegakkan shalat dalam masjid itu (Masjid Dhirar) selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya (di dalam Masjid Quba) ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Alloh menyukai orang-orang yang bersih.”

(QS. At-Taubah ayat 108).


اَفَمَنْ اَسَّسَ بُنْيَا نَهٗ عَلٰى تَقْوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَا نٍ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ اَسَّسَ بُنْيَا نَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَا رٍ فَا نْهَا رَ بِهٖ فِيْ نَا رِ جَهَـنَّمَ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ


"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Alloh dan keridaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

(QS. At-Taubah ayat 109)


لَا يَزَا لُ بُنْيَا نُهُمُ الَّذِيْ بَنَوْا رِيْبَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلَّاۤ اَنْ تَقَطَّعَ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ


"Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Alloh Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."

(QS. At-Taubah ayat 110)


Kemudian Rasulullah SAW mengutus Malik bin Dukhsyum saudara Bani Salim dan Ma’an bin Adi seraya berkata kepada mereka berdua, ”Pergilah kalian ke masjid yang didirikan oleh orang-orang dzalim (Masjid Dhirar), kemudian hancurkan dan bakarlah.” 


Maka keduanya pun berangkat. Hingga, setibanya di perkampungan Bani Salim, Malik berkata kepada Ma’an, “Tunggu sebentar, aku akan mengambil api dari rumah keluargaku.”


Sesaat kemudian, dia keluar dengan membawa pelepah kurma yang dibakar dan berjalan dengan Ma’an bin Adi menuju Masjid Dhirar tersebut, lalu membakar dan menghancurkannya sehingga orang-orang yang berada di dalam masjid tersebut berhamburan keluar.


Hingga di suatu hari, kepada kelompoknya, Abdullah bin Ubay berkata, “Demi Allah, kita dengan mereka tidak lain kecuali seperti ungkapan, ‘Engkau menggemukkan anjingmu, lalu dia menerkammu.’ Demi Allah, kalau kita kembali ke Madinah, pastilah orang-orang mulia akan mengusir orang-orang hina.”


Perkataan Abdullah bin Ubay itu didengar langsung oleh salah satu sahabat Rosululloh SAW yang bernama Zaid bin Arqom Ra. Kemudian Zaid bin Arqom Ra menyampaikan informasi itu kepada pamannya, lalu pamannya melanjutkannya kepada Rosululloh SAW.


Tak berapa lama Abdullah bin Ubay menemui Rosululloh SAW dan membantah bahwa ia berkata demikian. Rosululloh SAW pun bermunajat kepada Alloh SWT tentang kebenaran ucapan Abdullah bin Ubay. Hingga akhirnya, Rosululloh SAW menerima wahyu Al-Qur’an Surah Al-Munafiqun ayat 8—10.


يَقُوۡلُوۡنَ لَٮِٕنۡ رَّجَعۡنَاۤ اِلَى الۡمَدِيۡنَةِ لَيُخۡرِجَنَّ الۡاَعَزُّ مِنۡهَا الۡاَذَلَّ ‌ؕ وَلِلّٰهِ الۡعِزَّةُ وَلِرَسُوۡلِهٖ وَلِلۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَلٰـكِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ لَا يَعۡلَمُوۡنَ


“Mereka berkata, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (kembali dari perang Bani Mustalik), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, rosul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.”

(QS Al Munafiqun: 8)


يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُلۡهِكُمۡ اَمۡوَالُكُمۡ وَلَاۤ اَوۡلَادُكُمۡ عَنۡ ذِكۡرِ اللّٰهِ‌ۚ وَمَنۡ يَّفۡعَلۡ ذٰلِكَ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Alloh. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

(QS Al Munafiqun: 9)


وَاَنۡفِقُوۡا مِنۡ مَّا رَزَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ يَّاۡتِىَ اَحَدَكُمُ الۡمَوۡتُ فَيَقُوۡلَ رَبِّ لَوۡلَاۤ اَخَّرۡتَنِىۡۤ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيۡبٍۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنۡ مِّنَ الصّٰلِحِيۡنَ


“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”

(QS Al Munafiqun: 10)


Atas perintah Alloh SWT, Rosululloh SAW pun tidak jadi melaksanakan salat. Abdullah bin Ubay pun kebingungan mengapa Rosululloh SAW tidak jadi melaksanakan salat di Masjid Dhirar tersebut. Hingga akhirnya, Rosululloh SAW pergi meninggalkan Masjid Dhirar dan tidak kembali lagi untuk selamanya. 


Setelah pergi jauh dari Masjid Dhirar, Rosululloh SAW memerintahkan kepada para sahabatnya untuk membakar, lalu menghancurkan masjid buatan orang-orang munafik tersebut dan menjadikannya rata dengan tanah, serta menjadikan wilayah Masjid Dhirar sebagai tempat pembuangan sampah sekaligus tempat membuang bangkai binatang


Itu adalah isyarat bahwa masjid yang didirikan bukan atas dasar ketakwaan bagaikan sampah yang tidak bernilai sedikit pun serta kotor karena dibuat dengan tangan jahat yang kotor dengan dosa karena mereka umpama senang memakan daging saudaranya sendiri karena di dalamnya selalu muncul ghibah dan fitnah. Dan Alloh SWT menjadikan Masjid Dhirar sebagai umpama bahwa orang munafik beserta hartanya tidak berguna bagi Rosululloh SAW dan umatnya yang setia dan beriman kepada Alloh SWT.


Setelah pembakaran Masjid Dhirar, suatu hari, datanglah Hubab atau Abdullah (salah satu anak Abdullah bin Ubay yang paling menonjol). Dia ikut dalam berbagai perang: Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya. Di hadapan Hubab, sang ayah selalu menghina Rosululloh SAW hingga membuat Hubab tersulut emosi.


Dalam sebuah perkumpulan bersama para sahabatnya, Rosululloh SAW bermusyawarah untuk menghadapi ancaman keberadaan orang-orang munafik. Dalam pembahasan tersebut, disebutkan bahwa Abdullah bin Ubay akan menjadi ancaman besar apabila dibiarkan. Beberapa sahabat Rosululloh SAW menawarkan diri untuk membunuh Abdullah bin Ubay. Namun, Hubab bin Abdullah bin Ubay (anak dari Abdullah bin Ubay) mengajukan diri untuk membunuh ayahnya sendiri di hadapan Rosululloh SAW dan para sahabatnya.


“Ya Rosululloh, aku mendengarmu menginginkan Abdullah bin Ubay dibunuh. Kalau memang begitu, berikanlah tugas itu kepadaku, maka akan saya bawakan kepalanya kepadamu,” kata Hubab bin Abdullah bin Ubay.


“Orang-orang Khazraj sudah tahu, tak ada orang yang begitu berbakti kepada ayahnya seperti yang aku lakukan. Aku khawatir engkau akan menyerahkan tugas ini kepada orang lain. Kalau sampai orang lain itu yang membunuhnya, aku tak akan dapat menahan diri membiarkan orang yang membunuh ayahku berjalan bebas. Tentu akan kubunuh dia dan berarti aku membunuh orang beriman yang membunuh orang kafir, dan aku akan masuk neraka,” lanjut Hubab bin Abdullah bin Ubay Ra.


Rosululloh SAW menjawab, “Kita tidak akan membunuhnya, bahkan kita harus berlaku baik kepadanya. Kita harus menemaninya baik-baik selama dia masih bersama dengan kita.”


Tatkala Abdullah bin Ubay, telah datang untuk masuk ke kota Madinah, anak lelakinya ((Hubab atau) Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul) menghadangnya di jalan dan mengatakan, “Berhentilah di tempatmu! Hari ini, aku benar-benar akan mengetahui, siapakah yang paling mulia dan siapakah yang paling hina?”


Abdullah bin Ubay berkata, “Celakalah engkau. Kenapa engkau?”


Hubab berkata, “Engkau mengatakan begini dan begini? Hari ini aku benar-benar akan mengetahui, siapakah yang paling mulia dan siapakah yang paling hina. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah paling mulia dan engkau yang paling hina.”


Hubab bin Abdullah menghalangi sang ayah masuk ke wilayah Madinah Al-Munawaroh sehingga sang ayah mengutus seseorang untuk mengadu kepada Rosululloh SAW bahwa dia tidak diperbolehkan masuk oleh anak lelakinya sendiri. Hubab bin Abdullah bin Ubay melakukan penjagaan dengan ketat.


Setelah mendengar penghadangan Hubab bin Abdullah terhadap ayahnya, Rosululloh SAW bersabda, “Biarkan dia.”


Setelah datang perintah Rosululloh SAW, maka anak lelaki Abdullah bin Ubay pun mengizinkannya masuk meski dirinya masih merasa geram dengan keberadaan ayahnya karena takut akan menjadi ancaman bagi Rosululloh SAW dan para sahabat lainnya. Akhirnya, Abdullah bin Ubay masuk ke wilayah Madinah Al-Munawaroh dengan aman.


Suatu hari, Rosululloh SAW mendengar dari seseorang bahwa Abdullah bin Ubay jatuh sakit. Rosululloh SAW bersama beberapa orang sahabat lantas menjenguknya. Rosululloh SAW melihat Abdullah bin Ubay sudah terbaring lemah di atas pembaringannya. Rosululloh SAW dengan penuh kasih sayang berharap kesembuhan untuk Abdullah bin Ubay.


Hingga akhirnya, Abdullah bin Ubay wafat karena sakit perut yang begitu menyiksanya selama beberapa waktu. Namun di akhir hayatnya, dia tidak mengucapkan dua kalimat syahadat yang membuat Rosululloh SAW dan para sahabatnya makin yakin bahwa Abdullah bin Ubay adalah seorang yang munafik sejati. Meski demikian, Rosululloh SAW tidak kekurangan rasa hormat kepada Abdullah bin Ubay meski Abdullah bin Ubay dan para pengikut setianya memandang hina Rosululloh SAW.


Akhirnya, Abdullah bin Ubay wafat pada tahun 631 M/10 Hijriah. Ketika ia meninggal, anaknya yang seorang muslim sejati, Abdullah (Hubab) bin Abdullah bin Ubay Ra, meminta Rosululloh SAW untuk menshalatkan jenazah ayahnya. Ketika mengetahui bahwa Abdullah bin Ubay meninggal dunia, Rosululloh SAW sempat mengatakan ingin mensholati jenazah Abdullah bin Ubay dalam sebuah perkumpulan bersama para sahabatnya.


Sabda Rosululloh SAW ini menimbulkan protes dari beberapa orang sahabatnya. Banyak dari para sahabat Rosululloh SAW tidak setuju karena mereka sudah mengetahui betapa munafiknya Abdullah bin Ubay. Rosululloh SAW terdiam sejenak setelah menerima protes dari para sahabatnya hingga para sahabatnya terdiam sambil menunggu reaksi dari Rosululloh SAW.


Rosululloh SAW yang sedang diam sambil bermunajat kepada Alloh SWT melalui malaikat Jibril as, tak lama kemudian mendapatkan wahyu dari Alloh SWT, yaitu QS. At-Taubah ayat 80—84.


اِسْتَغْفِرْ لَهُمْ اَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ ۗ اِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَفَرُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ


“(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Alloh tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka ingkar (kafir) kepada Alloh dan rosul-Nya. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

(QS. At-Taubah ayat 80)


فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْۤا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَا لُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَـرِّ ۗ  قُلْ نَا رُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّا ۗ لَوْ كَا نُوْا يَفْقَهُوْنَ


“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rosululloh. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah (wahai Muhammad), "Api neraka Jahanam lebih panas,’ jika mereka mengetahui.”

(QS. At-Taubah ayat 81)


فَلْيَـضْحَكُوْا قَلِيْلًا وَّلْيَبْكُوْا كَثِيْرًا ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ


“Maka, biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka perbuat.”

(QS. At-Taubah ayat 82)


فَاِ نْ رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَآئِفَةٍ مِّنْهُمْ فَا سْتَـأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَا تِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّا ۗ اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِا لْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍ  ۗ فَا قْعُدُوْا مَعَ الْخٰلـِفِيْنَ


“Maka, jika Alloh mengembalikanmu (Muhammad) kepada suatu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, ‘Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi (berperang) sejak semula. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).’”

(QS. At-Taubah ayat 83)


وَلَا تُصَلِّ عَلٰۤى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّا تَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖ ۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَا تُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ


“Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan sholat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik) selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Alloh dan rosul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” 

(QS. At-Taubah ayat 84)


Setelah turun ayat tersebut, Umar bin Khoththob Ra segera berdiri dan menahan Rosululloh SAW sambil bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah engkau akan menyalatkannya padahal Tuhanmu telah melarangmu menshalati orang-orang munafik?”


Hingga akhirnya, Rosululloh SAW tidak jadi mensholati jenazah Abdullah bin Ubay dan tidak mendoakannya, mulai dari awal wafatnya hingga jenazahnya sudah berada di dalam kubur. Begitu pun para sahabat Rosululloh SAW tidak ikut mensholati dan mendoakan kebaikan untuk Abdullah bin Ubay.


*****


Bekasi, 5 November 2025, 16:32 WIB.

—Andrian Dharma Yudhistira

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Islam: Zaman Kekhalifahan Islam

Sejarah Islam: Sayyidina Bilal bin Rabah Ra (Azan yang Menembus Langit)

Pentingnya Mengkaji Politik Islam dan Syariat Secara Kaffah (Keseluruhan Secara Lahir Batin)